Ratusan warga yang bermukim di Desa Guru Kinayan, Karo, di kaki Gunung Sinabung, Sumut, menggelar ritual Sarilala, Jumat (22/7/2011). Ritual ini diharapkan dapat menghindarkan desa dari segala bencana termasuk dari letusan Gunung Sinabung.
Ritual tersebut dilaksanakan sejak pukul 09.00 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Upacara itu ditandai dengan bersama-sama mendatangi sumber mata air Tapin Lau Pirik yang ada di pinggir desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seterusnya warga melakukan kunjungan ke makam Nini Lau Penawar, Nini Galuh, dan Nini Reba Mblang. Ketiganya merupakan pendiri desa dan diyakini terus memberikan perlindungan terhadap desa. Di ketiga tempat ini, kegiatan sejenis juga dilakukan.
"Upacara ini merupakan upaya untuk menghindarkan desa dari bencana. Ini tradisi masyarakat sejak lama," kata Merdeka Depari, salah seorang tetua adat di desa tersebut.
Menurut Merdeka, upacara Sarilala dilakukan jika masyarakat menyaksikan meteor jatuh mendekati desa atau diistilahkan bintang jatuh atau dalam bahasa setempat dinamakan Sarilala.
Jika Sarilala terlihat melintas sangat dekat dengan desa, maka bisa jadi desa akan ditimpa bencana. Tiga pekan lalu, Sarilala terlihat dekat desa, itu makanya perlu dilakukan upacara Sarilala. Selain itu, Sarilala juga dimaksudkan sebagai permohonan agar hujan segera turun.
Upacara tolak bala terbilang tidak begitu rutin dilaksanakan warga desa Guru Kinayan. Kali terakhir pelaksanaannya ketika Gunung Sinabung meletus pada Agustus 2010 lalu. Upacara tolak bala dilakukan dengan harapan gunung segera berhenti meletus.
Desa Guru Kinayan yang berada di Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, berada cukup dekat dengan Gunung Sinabung. Dari bibir kawah, desa ini berjarak sekitar empat kilometer, sedangkan dari Medan sekitar 85 kilometer.
(rul/fay)











































