"Gunung api itu kalau mau meletus biasanya gempa dulu, lalu tremor kemudian meletus, itu pakemnya. Kalau ini Lokon agak beda. Seteleh letusan diikuti tremor. Seperti setelah letusan tanggal 18, lebih 40 jam nggak berhenti tremornya. Sekarang ini relatif berhenti, dan kalaupun ada kecil," kata Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Dr Surono, kepada detikcom, Jumat (22/7/2011).
Dia menambahkan, sejak Kamis (21/7) kemarin hingga kini, gempa tremor masih ada. PVMBG pun menunggu apakah akan ada ancaman letusan lagi. Sementara ini, sebaran abu letusan gunung mengikuti arah angin ke barat dan barat laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski daerah bahaya semula 3,5 km kemudian diperpendek menjadi 3 km, namun status awas masih disematkan di gunung ini. Belum ada penurunan status, sehingga masyarakat harus tetap waspada.
"Cita-cita saya adalah zero victim. Untuk ini memang tidak mudah, scientistnya pusing, Tim SAR mumet, pengungsi tidak nyaman dan pemda setempat repot. Tapi demi satu nyawa, semua harus berkorban untuk sabar. Saya bersyukur korban langsung tidak ada, tapi kita semua diuji kesabarannya," tuturnya.
Jika aktivitas Lokon yang beberapa hari menurun kemudian secara serta merta status diturunkan dan semua pengungsi dibolehkan pulang, menurut Surono, hal itu terlalu gegabah. Penurunan status bahaya gunung bisa menurunkan tingkat kewaspadaan. Karena itu penurunan status ini harus super hati-hati.
"Mungkin banyak yang sudah jenuh menunggu, tapi kita harus sabar wait and see. Kalau tidak sabar tentu tidak ada yang tinggal di daerah bahaya. Tapi ini kan tidak mungkin karena situasi dan kondisinya yang begini. Ini sesuatu yang sudah given. Yang terpenting adalah bagaimana risiko diperkecil," sambung pria asal Cilacap, Jawa Tengah ini.
Pihaknya saat ini masih memantau apakah tremor yang sesekali masih terjadi ini semacam pelepasan energi, energi Lokon sudah turun, Lokon masih mencari keseimbangan atau sedang menyimpan energi. Surono pun berharap, masyarakat setempat rasional dalam melihat fenomena.
"Masyarakat dan pemda di sini untunglah mempercayai informasi yang kami berikan dengan berdasar pada pemantauan intensif. Meskipun semua jenuh, harus tetap waspada. Kita wait and see. Jangan lengah, karena petaka muncul saat kita lengah," tutup Surono.
(vit/fay)










































