"Terapi listrik itu hanya bisa untuk untuk penyakit kejiwaan. Kalau untuk terapi penyakit organ itu belum terbukti," ujar Dien saat berbincang dengan detikcom, Jumat (22/7/2011).
Menurut Dien, apa yang dilakukan oleh warga di Rawabuaya tersebut justru sangat membahayakan kesehatan mereka. Daya listrik yang tidak diketahui besarnya itu justru bisa membahayakan bagi tubuh manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengantisipasi hal itu, Dinkes DKI telah menerjunkan tim penyuluh pagi ini ke Rawabuaya. Tim akan memberikan pengertian kepada warga agar tidak lagi melakukan terapi dengan cara berbaring di atas rel kereta itu.
"Tim sudah terjun, nanti kita akan berikan penyuluhan tentang bahaya terapi itu. Belum ada penelitian yang membuktikan bahwa terapi seperti bisa menghilangkan penyakit seperti yang mereka yakini, itu belum tentu benar," imbuhnya.
Warga Rawabuaya ramai-ramai meniduri perlintasan rel KRL untuk terapi kesehatan. Warga meyakini sisa aliran listrik saat KA melintas bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti penyakit gula, asam urat, kolesterol dan darah tinggi. Saat berbaring, beberapa bagian tubuh mereka bergerak-gerak.
(her/nrl)











































