"Tanggal 16 Agustus Hasan diminta ambil draf surat di apartemen Arsyad. Di situ ada kata penambahan," kata Wakil Ketua Panja, Abdul Hakam Naja usai RDPU dengan Masyhuri Hasan di Gedung DPR, Senayan (21/7/2011).
Kata 'penambahan' sangat krusial dalam surat penjelasan MK itu. Dengan kata itu, Dewie Yasin Limpo berhak mendapatkan satu kursi di DPR. Padahal yang berhak sebenarnya adalah Mestariyani Habie.
Oleh Arsyad, Hasan kemudian diminta mengetikkan surat tersebut. Hasan juga disuruh meminta tanda tangan panitera MK, Zaenal Arifin Husein.
"Hasan didampingi Dewie yasin, Bambang, Rara dan ibunya Rara, Pakai mobil Rara ke tempat Zainal Arifin Husein untuk minta tanda tangan," kata Hakam.
Namun dalam pertemuan itu Zaenal menolak menandatangani surat tersebut. Tamu pun undur diri dengan tangan kosong.
"Kemudian surat dibawa ke rumah Hasan. Kemudian dia musnahkan," ucap Hakam
Arsyad Sanusi berulangkali membantah terlibat dalam surat palsu MK ini. Ia menyatakan pelibatan namanya hanyalah rekayasa. Namun keterangan yang disampaikan Hasan malam ini membantah semua pernyataan Arsyad
(adi/her)











































