Tim yang dipimpin mantan Rektor Undip, Prof Dr Eko Budihardjo, tersebut datang ke Solo untuk menemui Walikota Surakarta, Joko Widodo, beserta stafnya di rumah dinas Walikota Surakarta, Kamis (21/7/2011) sore. Tujuan kedatangannya adalah mencari masukan bagi tim untuk mengambil kesimpulan akhir.
Belum juga masukan diterima, Eko Budihardjo langsung mendahului pertemuan dengan permintaan maaf secara pribadi maupun sebagai ketua tim. Dia mengakui telah terlalu sembrono dan tergesa-gesa saat merilis kesimpulan tim bahwa bangunan eks Saripetojo tak layak disebut sebagai bangunan cagar budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah meminta maaf, Eko juga meminta agar selanjutnya dirinya dan seluruh anggota tim tidak dinilai sebagai tim bentukan yang hanya bertugas sebagai tukang stempel kepentingan Pemprov Jateng yang ingin mendirikan mal di kawasan bekas pabrik es jaman Belanda tersebut.
"Saya sudah pensiun, buat apa saya melacur. Saya tidak ingin mempertaruhkan reputasi keilmuan saya hanya untuk kasus ini. Apalagi para anggota tim kami yang masih muda-muda. Kasihan kalau mereka mereka dicap sebagai ilmuwan pelacur. Masa depan mereka masih panjang," lanjutnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, rekomendasi tim kajian yang terdiri dari akademisi Undip, UGM dan UNS tersebut ditentang keras oleh warga Solo. Warga Solo menyebut mereka sebagai intelektual tukang yang telah terkooptasi oleh kepentingan Pemprov Jateng.
(wcd/her)











































