Agar Tak Terlacak, Nazaruddin Tampil di TV Diduga Pakai Calling Card

Agar Tak Terlacak, Nazaruddin Tampil di TV Diduga Pakai Calling Card

- detikNews
Kamis, 21 Jul 2011 10:51 WIB
Agar Tak Terlacak, Nazaruddin Tampil di TV Diduga Pakai Calling Card
Jakarta - Sudah 2 hari ini Nazaruddin wara-wiri di dua stasiun televisi. Lewat sambungan telepon, mantan bendahara Partai Demokrat (PD) cuap-cuap mengumbar tudingan. Padahal Nazaruddin tengah menjadi buronan KPK. Apakah Nazaruddin tak takut terlacak?

"Apakah sedemikian lugunya dia sampai berani melakukan hubungan via telepon tanpa memastikan bahwa dia aman? I don’t think so," kata praktisi telematika dari UIN Syarif Hidayatullah, Abimanyu Wachdjoewidajat, melalui surat elektronik, Kamis (21/7/2011).

Pria yang akrab disapa Abah ini membuat sejumlah analisis. Dari pengecekan saat Nazaruddin melakukan kontak telepon dengan Metro TV dan TVOne, Abah yakin tersangka kasus Kemenpora itu melakukan komunikasi bukan dengan perangkat selular.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari kualitas suara pada kedua tayangan tersebut saya sangat yakin bahwa dia menelepon bukan dari perangkat selular melainkan sangat mungkin dari calling card," katanya.

Abah menjabarkan analisanya. Berdasarkan pengalaman dia berkomunikasi dengan orang yang menggunakan calling card selalu suaranya seperti itu yang terjadi saat wawancara Nazaruddin dan stasiun TV itu dan selalu ada jeda.

"Menggunakan calling card adalah cara termudah untuk bisa berkomunikasi secara aman dan anonymous karena bisa dibeli di mana saja bahkan tanpa perlu identitas," terangnya.

Calling card umumnya menggunakan teknologi VoIP (komunikasi via internet) yakni menggunakan infrastruktur atau mediasi pengantar secara digital via internet.

"Pada teknologi tersebut karena di ujungnya adalah analog maka untuk konversinya kualitas suara jadi berkurang. Apalagi dengan terdengarnya suara ponsel yang berbunyi saat dia berbicara di MetroTV pada detik 0:46-53 serta 1:22-1:25 saya semakin yakin dengan analisa ini," urainya.

Selain calling card, ada juga metoda lain secara digital yang kemungkinan bisa dipakai Nazaruddin secara aman, yakni melalui call conference.

"Jadi Nazaruddin berkomunikasi dulu dengan rekannya, katakanlah si A, lalu A melakukan panggilan ke MetroTV atau TVOne, setelah terhubung lalu Nazaruddin dan MetroTV atau TVOne berbicara dan si A diam saja. Dengan cara ini berarti nomor yang tercatat pada pesawat penerima adalah nomornya si A, bukan nomornya Nazaruddin," jelasnya.

Menurut Abah juga, bila Nazaruddin menelepon dari ponsel pribadinya diyakini hari-hari ini sangat mungkin mendekati 'akhir dari pelariannya'.

"Tapi kalau pakai salah satu dari 2 cara di atas atau bahkan gabungan dari keduanya maka dia masih bisa menghirup udara bebas lebih lama lagi entah sampai kapan," imbuhnya.

Kunci ada pada pada kedua stasiun TV itu. Tapi apakah benar Nazaruddin menelepon langsung ke jaringan PSTN stasiun TV tersebut? Ataukah via selular yang lalu ditempel ke house phone stasiun TV tersebut, cara ini pun sangat mungkin dan biasanya menurunkan kualitas suara.

"Namun ada UU Pers yang melindungi narasumber bukan? Berarti tidak mudah bagi polisi untuk melakukan pelacakan tersebut terkecuali mencari info ke Telkom untuk memeriksa incoming call bila melalui PSTN dan kita tahu nomornya pasti sangat banyak," jelasnya.

Sedang terkait yang diutarakan Nazaruddin apakah itu bisa terkena tuntutan penghinaan atau pencemaran nama baik orang-orang yang disebutkannya via telepon, Abah yakin UU ITE tidak bisa diberlakukan.

"Karena dia menyampaikannya secara komunikasi langsung tidak mengantarkan 'Informasi Elektronik' sebagai bukti digital. Jadi bila memang akan terkena tuntutan pencemaran pasti itu menggunakan KUHP," tutur Abah yang memiliki akun twitter @me_abah ini.

(ndr/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini