Kisah Penderita Stroke Setelah Terapi di Rel KA

Kisah Penderita Stroke Setelah Terapi di Rel KA

- detikNews
Rabu, 20 Jul 2011 19:10 WIB
 Kisah Penderita Stroke Setelah Terapi di Rel KA
Jakarta - Kecit (65) merupakan satu dari sebagian orang yang menjalani terapi aliran listrik di rel kereta api stasiun Rawa Buaya. Mendengar cerita dari mulut ke mulut, Kecit akhirnya mencoba menjalani terapi ini secara rutin sejak 3 bulan lalu.

Sore ini kakek bercucu empat ini tampak santai berselonjor di atas rel kereta api. Tangan dan kakinya ditempelkan di atas rel. Seketika tubuh Kecit bergetar tersengat arus listrik. Dia berharap terapi ini dapat menyembuhkan penyakit stroke yang dideritanya.

Didampingi seorang anak dan cucunya, Kecit menceritakan perkembangan kesehatannya. Sejak 1 tahun lalu dia menderita stroke sehingga bagian tangan dan kaki sebelah kanan tidak bisa digerakan. Kini setelah menjalani terapi dia mengaku kondisi mulai membaik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Allhamdulilah sekarang kaki dan tangan sudah bisa digerakin," kata Kecit kepada detikcom, Rabu (20/7/2011).

Pertama kali mencoba sekitar 3 bulan lalu, Kecit masih sulit jalan sehingga harus dipapah oleh anaknya. Sekarang dia sudah bisa jalan seperti biasa. Hal ini terlihat ketika dia terbangun dari duduknya ketika melihat kereta akan melintas.

"Sekarang sudah bisa bangun dan berjalan sendiri," ungakap Agus (40) anak Kecit.

Selain itu kata Agus, kondisi tubuh sang ayah berangsur-angsur sudah mulai bugar. Asupan nasi sudah mulai normal, ketika malam tidurnya pun sudah mulai nyenyak. "Sekarang tidurnya pulas, nggak gelisah," imbuhnya.

Seiring dengan membaiknya kondisi sang ayah sudah hampir 2 bulan lebih Agus tidak membawanya ke dokter maupun ke pengobatan alternatif. Sebelumnya Kecit rutin berobat dan menjalani akupuntur.

"Sekarang ke sini saja," kata Agus.

Memang kesembuhan mereka yang menjalani terapi ini baru sebatas pengakuan tanpa dibuktikan secara medis. Namun masyarakat tampaknya tidak butuh bukti medis untuk tetap berdatangan dan mencoba terapi alternatif ini.


(did/gah)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads