"Saya tidak setuju kalau dilarang," tegas Agus (40) kepada detikcom, Rabu (20/7/2011).
Menurut Agus, mayoritas warga yang datang ke sini sudah merasakan khasiat dengan terapi arus listrik. Jika alasanya mengancam keselamatan, setiap warga yang datang pasti mawas diri akan resiko tertabrak kereta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus berharap, agar PT KAI dapat mencarikan solusi agar warga tetap dapat menjalani terapi gratis itu. Terlebih mereka yang datang umumnya dari masyarakat kalangan bawah.
"Saya harap jangan dilarang tapi ga ada solusinya," pinta Agus.
Hayati (40) juga memiliki harapan sama. Perempuan yang sudah 3 bulan menjalani terapi itu meminta agar warga diberi keleluasaan untuk menyembuhkan penyakitnya. "Kalau bisa mah jangan dilarang," harapnya.
Sebelumnya Kepala Penertiban Daops 1 PT KAI, Ahmad Sujadi telah memberikan surat kepada kepala stasiun untuk melarang kegiatan itu. Surat yang dikirim sejak 10 Juli lalu juga disosialisasaikan kepada masyarakat.
(did/gah)











































