"Politik uang saya jamin tidak ada. Kalau tim menyediakan fasilitas transportasi, konsumsi, akomodasi, itu memang kewajiban tim. Masa yang berjuang bersama-sama tim tidak difasilitasi transportasi, akomodasi, dan konsumsi," kata Anas kepada wartawan di rumahnya, Jl Teluk Semangka C4, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/7/2011).
Anas menegaskan pemberian fasilitas itu bukan politik uang. "Kan kronologisnya jelas, konteksnya jelas, saya bukan orang yang ngotot untuk maju. Saya diminta DPC dan DPP untuk maju, tidak ada logikanya untuk membeli suara," terang Anas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uang untuk fasilitas kepada DPC-DPC itu pun bukan berasal dari dana tidak jelas. "Saya tahu ongkos-ongkos itu bantingan dan iuran dari anggota tim," klaim Anas.
Soal pertemuan di Hotel Aston, Bandung soal bagi-bagi uang pun Anas membantah. Anas yakin apa yang disampaikan Nazaruddin itu tidak benar karena dirinya tidak tahu sama sekali.
"Saya kan pengantinnya, saya tidak tahu proses di lapangan. Saya juga berpesan 2 hal kepada tim. Satu jangan menyerang tim lain, dua jangan melakukan politik uang. Itu juga yang disampaikan Pak Mubarok (Ahmad Mubarok) selaku ketua tim. Saya yakin tim saya bekerja sesuai garis instruksi pimpinan," tuturnya.
Sebelumnya Nazaruddin dalam beberapa kali kesempatan melalui BlackBerry Messenger (BBM) kepada wartawan mengaku menggelontorkan uang hingga Rp 20 miliar untuk memenangkan Anas dalam Kongres. Uang untuk membeli suara di daerah agar mendukung Anas.
(ndr/fay)











































