Aksi digelar di seberang Kantor DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (20/7/2011). Mereka memenuhi lebih dari separo badan jalan, sehingga membuat arus lalu lintas sedikit tersendat.
Massa yang berasal dari Semarang, Pekalongan, Boyolali, dan daerah lainnya itu membawa sejumlah spanduk, poster, dan bendera. Sebuah mobil dengan pengeras suara diparkir di depan massa. Kemudian mereka berorasi bergantian, kadang diselingi iringan musik dangdut.
Ketua DPD SPN Jawa Tengah, Suparno mengatakan peleburan atau penggabungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial akan menghilangkan jaminan sosial yang sudah ada. "Ini malah merugikan, karena tidak jelas lembaga pemberi jaminan sosialnya," katanya.
Dia mencontohkan, Jamsostek yang sudah ada sejak dulu jadi akan terancam. Padahal uang anggota SPN Jawa Tengah yang ikut Jamsostek sebesar Rp 90 triliun. Untuk menyampaikan aspirasi itu, Suparno meminta beberapa anggotanya berangkat ke Jakarta untuk berunjuk rasa menolak RUU BPJS.
Setelah menunggu beberapa lama, sejumlah anggota DPRD Jateng menemui para pekerja. Salah satu anggota DPRD, Slamet Efendi menilai positif aksi tersebut. Dia menilai RUU BPJS patut dipertimbangan untuk ditolak, karena bisa mengebiri pekerja.
"Kami dukung aksi ini!" kata anggota Komisi E DPRD ini yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Usai orasi perwakilan anggota DPRD, para pekerja membubarkan diri dengan tertib. Sebagian besar di antaranya meninggalkan lokasi dengan sepeda motor. Sementara puluhan polisi yang membarikade pintu gerbang DPRD, ikut bubar dan sisanya mengatur lalu lintas.
(try/fay)











































