"Ya kita maklumlah, dia mungkin sedang depresi atau apalah. Yang jelas money politics tidak ada," jelas Benny ketika dikonfirmasi mengenai pernyataan Nazaruddin di TV dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (20/7/2011).
Benny menyatakan, yang diketahuinya, Nazaruddin malah mendapat uang banyak saat kongres PD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benny lantas 'menantang' Nazaruddin untuk datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyerahkan bukti-bukti atas tudingannya.
"Tapi yang jelas itu tidak benar soal adanya money politics. Kalau dia berani silakan datang ke KPK. Jangan memberikan informasi dari jauh. Kalau dia merasa benar, jangan takut ke KPK. KPK itu tidak bisa direkayasa dan tidak bisa disuap," jelas Ketua Komisi III DPR ini.
Dalam sesi wawancara dengan Metro TV, Selasa (19/7) sore, Nazar begitu berapi-api membeberkan peranan Anas dalam kasus dugaan suap Kemenpora. Tak sedikit pula, Nazar menceritakan aliran dana saat Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun lalu.
Dalam dialog yang berlangsung selama hampir 15 menit tersebut, Nazar juga mengungkapkan kepergiannya ke luar negeri atas perintah Anas. Saat itu, Anas meminta Nazar kembali setelah pemerintahan berganti.
"Anas bilang sama saya, kalau masalah meledak ente ke Singapura. Setelah perubahan pemerintahan ini pulang. Jelas, ente sabar dulu. Silakan aja ke Singapura dulu," tutur Nazar.
Terakhir, Nazar juga membeberkan proyek di stadion Ambalang senilai Rp 1,2 triliun. Saat itu, proyek dimenangkan oleh PT Adhi Karya dengan cara yang tak wajar. Lalu, Anas kecipratan dari proyek tersebut senilai Rp 50 miliar untuk kepentingan kongres.
"Biaya kongres Anas, pemenangannya dari duitnya dari APBN. Rp 50 miliar dari proyek Ambalang. Saya masukkan dalam mobil box. Ibu Yulianis tahu, Ibu Yulianis sudah diamankan Anas dan istrinya," kata Nazar.
(nwk/fay)










































