Tanpa Pengusutan, 'Nyanyian' Nazar Dianggap Benar

Tanpa Pengusutan, 'Nyanyian' Nazar Dianggap Benar

- detikNews
Rabu, 20 Jul 2011 10:56 WIB
Tanpa Pengusutan, Nyanyian Nazar Dianggap Benar
Jakarta - Dari tempat persembunyiannya, Nazaruddin kian lantang 'menyanyi'. Langkah serius Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membongkar dan mengusut tuntas kasus ini sangat ditunggu. Tanpa pengusutan tuntas, 'nyanyian' Nazar akan dianggap benar oleh publik.

"KPK harus berani membongkar keterlibatan elite lain. Jika ini dilakukan KPK, maka integritas KPK akan semakin kokoh. Namun bila tidak, publik akan menilai ucapan Nazar adalah benar," kata pengamat politik Universitas Paramadina, Rico Marbun, kepada detikcom, Rabu (20/7/2011).

Dia berpendapat, testimoni Nazar akan sangat melukai kredibilitas KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi yang selama ini selalu dielu-elukan. Apalagi adanya tudingan beberapa oknum dicurigai ikut bermain dalam dugaan suap di Kemenpora.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"KPK harus membuktikan diri dengan jalan berani membongkar skandal ini sampai sejelas-jelasnya, bukan hanya operator kecil seperti Wafid, Paul dan lain-lain," imbuh Rico.

'Nyanyian' Nazar yang kian lantang ini menurut dia merupakan wujud frustasi mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu. Kemungkinan Nazar melihat tendensi bahwa dia akan dikorbankan sendirian.

Tudingan-tudingan Nazar ini tentunya berdampak pada konsekuensi politik pagi partai berlambang bintang mercy ini. Konsekuensi politik pertama, sambung alumnus UI ini, Partai Demokrat akan mengalami degradasi yang luar biasa besar pada 2014. Sebab jualan Partai Demokrat, SBY dan tokoh2-tokoh lainnya yang berupa jargon pemberantasan korupsi dirusak tanpa ampun oleh 'nyanyian' Nazaruddin.

"Konsekuensi politik kedua ialah runtuhnya legitimasi Anas (Anas Urbaningrum) sebagai pemimpin Demokrat," tambah Rico.

Rico menyarankan, SBY dan elite Demokrat lainnya harus berani mengambil langkah tegas terhadap Anas. Hal ini terkait dugaan money politics yang dilakukan dalam pemilihan ketua umum partai.

"Ini praktis menyebabkan kompetisi yang terjadi tidak fair dan Anas menjadi 'liability' untuk Demokrat," tuturnya.

Dalam sesi wawancara dengan Metro TV Selasa (19/7) kemarin, Nazar begitu berapi-api membeberkan peranan Anas dalam dugaan suap Kemenpora. Tak sedikit pula, Nazar menceritakan aliran dana saat Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun lalu yang memenangkan Anas. Bahkan KPK juga ikut menjadi sasaran tudingan Nazar.

(vit/fay)


Berita Terkait