"Pernah polisi, camat, walikota datang. Tapi kita pengen berobat," kata Warsi (40) kepada detikcom, Selasa (18/7/2011).
Mendengar penolakan itu kata wanita paruh baya yang menderita penyakit asam urat petugas akhirnya luluh. Para warga yang ingin terapi aliran listrik itu tetap diizinkan dengan catatan mereka menjaga keselamatan masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua jalur kereta jurusan Kota-Tangerang memang biasa dimanfaatkan warga untuk pengobatan pada sore hari. Mereka bahkan sudah hafal betul waktu kereta melintas, maklum saja jalur ini tergolong jarang dilalui hanya 1,5 jam sekali.
Dari jarak sekitar 300-400 meter ketika terdengar tanda kereta api akan melintas, mereka berbondong-bondong bangun. Padahal kala itu aliran listrik sedang enak-enaknya menggetarkan tubuh. "Lagi enak kereta lewat lagi," kata Usin (75).
Saat terapi mereka membawa sebotol air dan kain lap. Untuk menambah tegangan listrik kainnya disiram air lalu diletakan di atas rel. Sambil tiduran kaki dan tangan mereka memegang kain. Seketika seluruh tubuh bergetar.
"Listriknya makin kenceng," ungkapnya.
Kala sinar matahari semakin berkurang semakin banyak lagi orang berdatangan. Sekitar 30 menit sampai 1 jam mereka memanfaatkan terapi. Hampir setiap hari rel ini selalu dikunjungi, apalgi ketika hari libur jumlahnya semakin membludak.
"Bisa 30 orang datang," imbuhnya.
Percaya tidak percaya sebagaian mereka yang sudah menjalani terapi ini merasa penyakit yang diderita mulai membaik. Jika anda penasaran silahkan mencobanya.
(did/lrn)










































