Untuk itu, menurut anggota Kompolnas Novel Ali, perlu dibuat social map atau peta sosial yang bisa memetakan potensi pelaku tawuran maupun tindakan kriminal lainnya. Peta itu nantinya diharapkan bisa dibuat mulai dari satuan masyarakat terkecil seperti RT di seluruh Indonesia.
"Menurut saya diperlukan social map atau peta sosial biar tahu peta kriminal tiap daerah itu bagaimana. Kalau bisa setiap RT, RW naik ke kecamatan membuat itu jadi tahu daerah mana yang ada potensi tawuran dan pelaku-pelaku kriminal lainnya," kata Novel Ali kepada detikcom, Rabu (20/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi nanti di peta bisa bermacam-macam isinya, potensi tawuran di wilayah mana saja, narkoba juga bisa. Jadi lebih mudah membicarakan penanganannya dengan polisi, kan sudah ada petanya," terangnya.
Dengan peta sosial itu pula, kata Novel, bisa dengan mudah menemukan titik-titik kemiskinan di setiap RT. Sehingga pemerintah bisa mudah mengalokasikan bantuan secara konkret.
Beberapa pekan terakhir tawuran marak terjadi di Ibukota. Dini hari tadi (20/7) pukul 02.00 WIB terjadi tawuran antara dua kelompok massa di Jl Ciputat Raya, Jakarta Selatan. Tawuran itu berlangsung mencekam karena kedua kelompok menggunakan senjata tajam dan saling melempar batu. Namun hingga kini, belum dilaporkan ada korban jiwa atas peristiwa tersebut.
Sebelumnya, tawuran juga terjadi di Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (17/7) hingga Senin (18/7), dini hari. Sebelumnya, tawuran antar warga juga terjadi di Pasar Rumput, Jl Sultan Agung, Jaksel.
(feb/vit)











































