"Kasus itu menunjukkan wartawan tidak kebal hukum jika melakukan kegiatan di luar dunia jurnalis. Menyadap dan menyuap itu kan melanggar hukum, dan itu bukan pekerjaan wartawan," ujar anggota Dewan Pers Bambang Harymurti kepada detikcom, Senin (18/7/2011).
Bambang menjelaskan wartawan dan media memiliki kekuasaan untuk menulis dan mempengaruhi opini publik. Kekuasaan ini janganlah disalahgunakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewan Pers berharap kasus semacam ini tidak terjadi di Indonesia. Menurutnya jika semua wartawan dan media memegang kode etik jurnalistik, tidak akan terjadi skandal ini.
Dalam kasus penyadapan dan penyuapan yang dilakukan oleh koran mingguan News of The World (NOTW), polisi Inggris telah menahan bos News International Rebekah Brooks. Namun tangan kanan Murdoch ini dibebaskan setalah membayar uang jaminan.
Pejabat polisi Ingris Paul Stephenson pun resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Ia meletakkan jabatan. Stephenson sempat menikmati fasilitas spa dari perusahaan media ini.
Kerajaan media Murdoch mendapat tekanan setelah kasus kematian Milly Dowler terungkap. Milly adalah anak perempuan yang tewas dibunuh namun teleponnya disadap oleh NOTW sehingga sempat dianggap masih hidup oleh keluarganya.
Mingguan NOTW juga diperkirakan menyadap telepon milik para korban serangan bom di London, Juli 2005.
Belakangan diketahui tabloid beroplah 2,8 juta dan berusia 168 tahun itu kerap melakukan penyadapan terhadap sejumlah tokoh untuk keperluan pemberitaan. News of the World telah berhenti terbit sejak pekan lalu dengan edisi terakhir berjudul "Thank You and Good Bye". Namun kasusnya terus berjalan.
Selain di Inggris, penyadapan telepon diduga juga terjadi di Amerika Serikat. Saat ini FBI tengah menyelidiki dugaan itu. Skandal ini disebut-sebut merupakan yang terburuk di sepanjang sejarah media massa.
Murdoch adalah raja media asal Australia yang kini menjadi warga negara AS. Dia berkibar dengan bendera News Corp. Media yang dimilikinya antara lain The Sun, The Daily Telegraph, Fox Broadcasting Company dan The Wall Street Journal.
(rdf/nrl)











































