Habib Idrus Jamalulail Dukung Amien Rais
Jumat, 25 Jun 2004 13:44 WIB
Jakarta - Banyak habib di Jakarta, tapi mereka mendukung capres yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Imam Besar Masjid Nurul Abrar, Habib Idrus Jamalulail, yang mendukung Amien Rais.Habib yang pernah dua kali dipenjara di era Soeharto itu mendukung Amien dengan karena Amien adalah calon pemimpin yang berilmu dan dapat dipercaya.Dukungan disampaikan Habib Idrus saat berdialog dengan 200-an jamaahnya usai salat Jumat (25/6/2004) di kawasan Mangga Dua, Jakarta. Menurut Habib Idrus, dukungannya pada Amien tanpa ada kepentingan politik atau deal tertentu."Saya tidak punya kepentingan politik apa-apa dengan Amien, tapi saya melihat dialah pemimpin yang terbaik dari calon-calon lainnya," tegas Habib yang punya massa cukup besar ini.Mengapa tidak mendukung Wiranto-SBY? Habib Idrus beralasan karena keduanya mantan tentara. "Saya dulu dipenjara pada zaman tentara berkuasa. Okelah mereka sekarang sudah pensiun. Saya umpakan kita pergi ke kebun binatang. Di situ ada macan. Katakanlah macan itu sudah tua dan tidak punya gigi. Kita tidak diterkam, tapi kukunya masih mencengkeram," jelas Habib Idrus.Habib Idrus menjelaskan, pemimpin harus mempunyai empat syarat. Pertama, berilmu. "Dari semua calon, hanya Amienlah yang bergelar profesor dan mempunyai ilmu yang cukup," kata Habib Idrus.Kedua, berani dan adil serta reformis. "Amien adalah salah satu tokoh reformis dan dia adil," ungkap Idrus. Ketiga, ibadahnya kuat. "Saya kira tidak ada orang yang meragukan lagi soal tingkat keibadahan Amien, baik salat maupun puasanya," papar Idrus.Keempat, panca inderanya sempurna. "Kenapa Gus Dur terjungkal, karena memang dia terhambat masalah panca indera di KPU. Dan itu tidak lepas dari skenario Megawati. Karena kalau Gus Dur maju, tentu para NU akan bergerak ke Gus Dur, bukan pada Hasyim," papar Idrus yang di kawasan masjidnya bersih dari atribut Amien Rais itu.Sekadar diketahui, Habib Idrus dikenal sebagai ulama yang keras. Keruan saja, ia kerap dijauhi sesama habib. "Saya ini habib yang paling diisolir," kata Idrus Jamalulail suatu ketika. Tampaknya, ia mewarisi sikap keras dari ayahnya, Habib Alwi Jamalulail, yang sering keluar-masuk penjara, sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, masa rezim Soekarno, hingga dua kali pada masa rezim Soeharto.Habib Idrus Jamalulail dua kali ditangkap aparatur kepolisian. Pertama pada 1982 karena kasus jilbab. Dan kedua, pada 1984, saat bersama ayahnya ia dituduh terlibat menggerakkan massa pada kasus Tanjung Priok. Uniknya, ayah empat anak ini sempat bekerja di bidang intelijen Kejaksaan Agung. Tapi saat ayahnya tahu, ia diberi pilihan: mau terus bekerja atau menjadi ulama.Maka, mulai 1975, jebolan Universitas Nasional, Universitas Islam Jakarta, dan Universitas Madinah itu sepenuhnya tampil berdakwah dan mengajar.
(nrl/)











































