Transmigran Jatim, Jateng dan DIY Telantar di Samarinda

Transmigran Jatim, Jateng dan DIY Telantar di Samarinda

- detikNews
Sabtu, 16 Jul 2011 17:11 WIB
Jakarta - Sebanyak 30 KK atau 102 jiwa transmigran asal Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, telantar di Samarinda. Lahan yang dijanjikan pada mereka tidak juga diberikan.

Transmigran itu sebelumnya berada di Desa Kaliorang, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Mereka yang terdiri anak-anak, remaja hingga orang dewasa itu kini berada di rumah Sutiyono, anggota DPRD Boyolali, Jawa Tengah, di Jl Rajawali Dalam I No 06 Samarinda, sejak Jumat (15/7/2011) kemarin. Rumah yang awalnya tidak dihuni tersebut, kini penuh sesak dengan barang-barang milik para transmigran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perwakilan transmigran, Izudin Nur Sogol (50) asal Malang, Jawa Timur menuturkan, para transmigran itu menjadi peserta program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah sejak 2010 lalu.

"Kami sudah di Kabupaten Kutai Timur sejak 1 Mei 2010," kata Nur Sogol, ketika berbincang bersama wartawan di rumah penampungan, Jl Rajawali Dalam I No 06, Samarinda, Sabtu (16/7/2011).

Selain dari Kabupaten Malang, asal daerah transmigran lainnya adalah Kabupaten Blitar (Jatim), Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Purwodadi (Jateng), Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunung Kidul (DIY).

"Awalnya ada 90 KK. Daerah asal semuanya ada 8 kabupaten. Sebagian ada yang masih tinggal di sana (Desa Kaliorang), sebagian lagi ada yang sudah pulang ke Jawa karena punya uang," ujar Nur Sogol.

Menurut Nur Sogol, sejak dari daerah masing-masing, para transmigran dijanjikan akan memperoleh lahan 2.500 meter persegi di Desa Kaliorang. Namun janji tersebut tidak kunjung ditepati.

"Kenyataannya ada yang cuma dapat 20x40 meter persegi," sebut Nur Sogol.

Dijelaskan Nur Sogol, Juni 2011 lalu, masyarakat sekitar daerah transmigrasi di Desa Kaliorang menyebutkan, lahan yang ada di pemukiman transmigran, bukan milik pemerintah.

"Kami kan ikut program transmigrasi resmi dari pemerintah pusat. Begitu di sini kok jadi tidak resmi?" keluhnya.

Persoalan kemudian berbuntut panjang. Nur Sogol mengaku, sebagian besar transmigran, menerima intimidasi dari warga setempat, aparat desa hingga Pemkab Kutai Timur. Berbagai perundingan pun dilakukan, namun belum menemui mufakat.

"Kami putuskan meminta direlokasi atau dipulangkan ke daerah asal karena intimidasi-intimidasi yang tidak perlu kami sebutkan," imbuh Nur Sogol.

Pemkab Kutai Timur, sambung Nur Sogol, menegaskan tidak memiliki anggaran untuk merelokasi atau memulangkan ke daerah asal. Demikian halnya dengan Pemprov Kaltim melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pada 5 Juli 2011 lalu, perundingan lanjutan dilakukan di Kemenakertrans, 8 kabupaten daerah pengirim transmigran serta Pemkab Kabupaten Kutai Timur.

"Setelah 2 minggu mengungsi di kantor camat Kaliorang, kami putuskan ke sini (Samarinda). Kami menumpang truk-truk, mobil pick up, hasil sumbangan warga sekitar yang menaruh prihatin dengan kondisi kami," terangnya.

Pengamatan detikcom di rumah penampungan para transmigran, rumah tersebut penuh sesak dengan barang-barang transmigran. Mereka hanya memakan nasi bungkus, yang disumbang warga sekitar.

"Kami belum tahu nasib kami selanjutnya. Apa yang kami lakukan juga belum tahu. Kami coba tenangkan pikiran dulu di sini," tutup Nur Sogol.

(nik/nik)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads