"Santrinya ada 36 orang menurut pimpinan pondok. Tapi pimpinan ini juga tidak punya data santrinya. Dia tidak tahu nama santrinya satu per satu," ujar Kapolda Nusa Tenggara Barat Brigjen Pol Arif Wachyunadi saat dihubungi detikcom, Sabtu (16/7/2011).
Selama dalam pemeriksaan, Arif masih belum mengakui mengenai barang bukti yang ditemukan di pondoknya tersebut.
"Kita lihat fakta di lapangan saja. Ada bahan rakitan, bom molotov, dan ratusan anak panah. Apakah seperti itu yang dinamakan pondokan," jelasnya.
Menurut masyarakat sekitar pondok, Abrori kerap mencurigai warga yang hendak masuk ke pondoknya. Karena itu santri-santrinya semua berasal dari luar Flores.
"Pimpinan ini nggak kenal sama masyarakat desa. Kalau ada masyarakat ke sana, suka dicurigai sama dia. Makanya santrinya dari luar Flores dan Sumba. Pimpinannya dari Bolo Bima," ungkapnya.
(gus/gah)











































