Pengamat Politik dari Lingkaran Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti berpendapat, ada semacam 'deal' khusus antara Nazaruddin, Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum.
"Sekarang ini kan setelah pidato SBY, serangan Nazar sudah nggak ada. Jadi itu yang jadi pertanyaan, apakah sudah terjadi deal antara Anas, SBY dan Nazar. Apa dealnya berhubungan dengan pemecatan, saya nggak tahu," kata Ray saat berbincang dengan detikcom, Jumat (15/7/2011) malam.
Kondisi ini sangat disayangkan oleh publik. Sebab, Nazaruddin dan Partai Demokrat sudah terlihat tidak harmonis lagi. Bahkan jika terus dibiarkan, bisa jadi pembelajaran politik yang kurang baik ke depan.
"Tidak perlu ada prosedur yang bertele-tele, sebab Nazar sudah tidak ada urusan dengan Demokrat, begitupun sebaliknya," tegas Ray.
"Apa perlunya lagi Demokrat mempertahankan Nazaruddin. Agak aneh, Demokrat begitu kesulitan, padahal Demokrat sudah nggak berkepentingan. Apa lagi? Nunggu apa lagi?" kecamnya.
Rakornas PD 23 Juli mendatang, kata Ray, seharusnya jadi momentum untuk menunjukkan kembali kekuatan Demokrat. Namun sayangnya, dalam momen itu juga bakal terjadi persaingan antara SBY dan Anas dalam rangka mencuri hati para kader.
"Mereka akan menunjukkan kembali kekuasaannya. Bisa juga digunakan untuk konsolidasi," tambahnya.
(mad/mei)











































