"Setelah dilakukan pemeriksaaan oleh pihak RS Eka Hospital, Serpong, Tangsel ternyata tidak ada tindak kekerasan. Amanda meninggal karena sakit," kata Kepala Dinas Pendidikan Tangsel, Mathodah mengatakan saat dihubungi detikcom, Kamis (14/7/2011).
Menurut Mathodah, sebelum memasuki masa ospek, pihaknya sudah pernah memanggil dan mengumpulkan seluruh pimpinan sekolah di Tangsel, untuk dilakukan pembinaan teknis (bintek). Dalam bintek itu disepakati sudah tidak ada lagi sekolah yang boleh melakukan plonco atau tindak kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mathodah mengatakan, ospek yang diperbolehkan saat ini seperti kegiatan pemaparan program kurikulum, pemaparan program ekstrakurikuler, dan pemaparan hak dan kewajiban siswa di tiap sekolah. "Jadi tidak ada kegiatan ospek yang aneh-aneh misalnya, seorang siswa disuruh membawa mi instan bermerek nama sekolah, ya tinggal dibungkus dan ditulis saja nama sekolah itu," ucapnya.
Amanda Putri meninggal di rumahnya sekitar jam 03.00 WIB. Sebelumnya pihak sekolah juga tidak melakukan hukuman atau plonco kepada Amanda. "Amanda memang tidak lengkap membawa perlengkapan sekolahnya, lalu diberi pembinaan, bukan dijemur," katanya.
Sementara itu, seorang siswa SMA 9, teman Amanda bernama Anggun mengatakan, saat ospek tidak ada kekerasan. Ospek hanya dilakukan dengan membawa benda-benda aneh, atraksi kebisaan diri dan jika tidak membawa apa yang sudah ditugaskan kakak kelas, hanya dihukum dengan cara berdansa di depan siswa-siswi baru.
"Jadi tidak ada sama sekali kekerasan," ungkapnya.
(did/ape)











































