Hadapi Pers, SBY Harus Belajar dari Ali Sadikin dan Obama

Hadapi Pers, SBY Harus Belajar dari Ali Sadikin dan Obama

- detikNews
Kamis, 14 Jul 2011 17:03 WIB
Jakarta - Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hendaknya belajar cara menghadapi pers dari Barack Obama dan Ali Sadikin. Kedua orang dinilai mampu bersikap proporsional dan bijak dalam menghadapi pemberitaan media yang mengkritik dirinya.

Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo menceritakan, meski Ali Sadikin dikenal galak bahkan pernah menampar seorang wartawan, namun mantan Gubernur DKI tidak pernah 'alergi' kepada media.

"SBY harus belajar dari Ali Sadikin," kata Agus dalam 'Dialektika Demokrasi: Demokrat Pecah, Pers Disalahkan' di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/7/2011). Hal itu dikatakan Agus terkait dengan pernyataan SBY yang menyalahkan media atas kekisruhan yang terjadi di internal Partai Demokrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ali Sadikin, kata Agus, menjadikan pemberitaan media sebagai 'auditor' gratis bagi pelaksanaan pembangunan Jakarta saat itu, di tengah para pembantunya yang tidak jujur dan 'Asal Bapak Senang' dalam pelaporan kinerja pemerintahan.

"Kita mengalami krisis kepemimpinan yang punya tipe seperti Ali Sadikin," kata Agus.

Pakar komunikasi politik, Tjipta Lesmana mengatakan SBY juga harus belajar dari Barack Obama. Presiden AS itu diketahui tidak hanya berhubungan dengan baik dengan media mainstream, tetapi juga dengan social media.

Tjipta mencatat, Obama pernah mengadakan pertemuan dengan para pengguna Twitter di Gedung Putih dan pernah berdiskusi CEO Facebook, Mark Zuckerberg, dengan para Facebooker. Obama juga pernah menemui pengguna You Tube.

"Saya mendapat informasi SBY sangat mengagumi Obama. Harusnya SBY juga belajar dari orang ya ia kagumi," ujarnya. "Ini malah bertolak belakang."

Tjipta juga mengutip pernyataan Direktur Komunikasi Gedung Putih Dan Pfeiffer tentang alasan Obama mendekati social media.

"Kita sudah memasuki era informasi yang berbeda, di mana rakyat memperoleh informasi dan berita yang sangat berbeda dengan cara baru. Jika ingin berkomunikasi dengan publik yang luas, tidak cukup dengan jalur media mainstream," ujar Tjipta mengutip Dan.

(lrn/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads