Pesta Rakyat di Ledeng, Amien pun Terpaksa Nyawer
Jumat, 25 Jun 2004 01:11 WIB
Bandung - Entah apa layak disebut kampanye atau bukan. Atau siapa yang justru berkampanye? Yang jelas, kunjungan capres Amien Rais ke komunitas seniman yang "bermarkas" dan biasa menggelar hasil karyanya di CCL (Cultural Centre Ledeng) hari Kamis (24/6/2004) malam nuansanya memang lain dari ajang kampanye yang biasa dilakukannya.Pada malam itu, "pesta rakyat" yang justru digelar dengan penuh sukacita dan tawa, di bawah pohon randu dan pokok durian sembari duduk lesehan.Amien Rais tiba di sub terminal Ledeng di bilangan Jl Setiabudi Bandung sekitar pukul 19.45 WIB. Kedatangan Amien yang dimeriahkan lantunan salawat para ibu itu semula sempat membuat bingung pada pengawalnya. Pasalnya, Amien langsung "digiring" masuk ke satu gang sempit, menyusuri jalanan yang dijepit rumah-rumah penduduk, naik-turun, belok kanan-kiri, pokoknya berliku-liku.Begitu tiba di satu kediaman warga yang digunakan untuk menyambut Amien, disangka di situlah acara dialog atau diskusi akan digelar. Namun ternyata, Amien hanya dipersilakan "transit" sejenak, untuk kemudian didaulat menuju ke panggung pertunjukan teater. Tak urung, Amien pun sempat kebingungan mencari sepatunya, yang ternyata sudah diamankan oleh ajudannya.Panggung pertunjukannya? Ya, di bawah pohon randu dan pokok durian itu. Tidak ada panggung, dan tiada pula kursi. Hanya ada matras untuk duduk lesehan, dan di situ pun kerumunan massa sudah tumpah ruah.CCL menurut sejumlah seniman, merupakan alternatif lain untuk berkesenian yang berkelas namun merakyat. "Ada CCF (Culture Centre de France), maka seniman-seniman rakyat membuat sendiri CCL," kata perupa Tisna Senjaya, kepada detikcom di lokasi pementasan. Dan itu menurutnya, sudah dilakukan para seniman cukup lama.Usai itu, Amien "didaulat" untuk memberikan sambutan seusai dipersilakan mencicipi menu gorengan, termasuk combro yang membuatnya kepedasan. Pada intinya, Amien menyambut baik semua kegiatan dan inovasi berkesenian dan kebudayaan. Pemerintah pun berkewajiban untuk menjaga kebudayaan nasional,aesuai pasal 32 UUD. Di sini, Amien mulai berkampanye, "Kalau saya dan Pak Siswono terpilih, maka Departemen Kebudayaan akan dibentuk," serunya. Hadirin, massa dan para seniman pun bertepuk tangan riuh.Namun Amien tak bisa berlama-lama berkampanye, karena pertunjukan teater "Muslihat Akbar, Laskar Panggung" karya Imam S Jabrik segera digelar. Pementasan teater yang kocak, mirip dengan sandiwara rakyat, tonil, atau apa pun istilahnya itu, mengundang tawa dan keriangan para hadirin.Ceritanya sederhana, tentang kehidupan pencari kayu bakar bernama Muslihat Akbar alias Akbar Kampak, yang tiba-tiba "didaulat" istrinya untuk menjadi tabib, untuk menyembuhkan putri kesayangan Pak Suka Harta. Sang putri, tiba-tiba terkena kasus menjadi bisu gara-gara asmaranya ditentang sang ayah. Inti ceritanya, di mana ada kasus, maka itu bisa dijadikan fulus oleh si Akbar Kampak ini.Amien pun kembali "dikerjain" para seniman ini, yang mengharapkan adanya duit jatuh dari langit. "Kali aja, ada yang nyawer (memberi uang,-red)," celetuk istri Akbar Kampak.Dede Yusuf dan sejumlah anggota tim sukses Amien yang duduk di belakangnya, tanggap dan langsung merogoh dompet, mengambil beberapa lembar uang dan melemparkannya kepada para pemain. Amien masih terbengong-bengong, entah karena bingung dengan istilah bahasa Sunda saweran, atau memang tidak ada uang di sakunya. Sampai kemudian ada anggota timnya yang menyorongkan amplop tebal kepadanya. "Pak, ini buat nyawer," katanya. Amien pun tanpa melihat lagi, langsung melemparkan amplop itu kepada anak-anak yang tengah pentas. Anak-anak yang tengah pentas pun terpekik melihat isi amplop yang cukup tebal itu,segepok uang Rp 50 ribuan.Walhasil, usai menyaksikan pementasan sekitar 1,5 jam itu Amien mengaku amat terhibur dan menikmati atraksi para seniman itu. "Seni dan budaya membuat hidup kita tercerahkan," katanya saat akan beranjak meninggalkan lokasi.Para seniman yang berpentas pun mengantarkan kepergian Amien dengan ucapan, "Pak Amien, kalau benar jadi presiden jangan lupa singgah lagi ke mari. Kalau pun Bapak tidak jadi presiden, tetaplah datang ke mari dan kita bisa berdiskusi soal kesenian."Amien pun kemudian pergi. Menurut tim suksesnya, Amien harus beristirahat, karena acara kampanyenya pada hari Jumat (25/6/2004) besok di Bandung amat padat. Namun massa usai menyalami dan melepas kepergian capres satu itu, belum juga membubarkan diri. Masih ada pertunjukan lain yang akan mereka saksikan. Pesta dan hiburan rakyat di Ledeng malam itu memang belum usai.
(dsb/)











































