Pantauan detikcom, Kamis (14/7/2011) warga yang didominasi kalangan perempuan dan anak-anak memblokade dua jalur jalan dengan menyandera dua mobil boks untuk dijadikan panggung orasi. Warga juga membakar ban bekas dan membawa poster dan foto jenazah Bagong.
Selain warga Maricaya Baru, puluhan mahasiswa dari gabungan kampus-kampus se-Makassar yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Pemerhati Sosial (Ampas) juga ikut berpartisipasi mengadvokasi keluarga korban penembakan. Para mahasiswa tersebut meminta Kapolda Sulselbar Irjen Pol Johny Waenal Usman turun dari jabatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istri korban, Aminah yang ditemui detikcom di lokasi aksi meminta polisi pelaku penembakan yang menewaskan suaminya dipecat dari jabatannya. Ia berharap ketegasan dan tanggung jawab Kapolda Sulselbar, Irjen Johny Waenal Usman atas tindakan pengeroyokan dan penembakan Surullah yang dilakukan anak buahnya.
"Saya shock mendengar kabar tewasnya suami saya karena tertembak polisi, saya hanya minta keadilan ditegakkan, pelaku harus dihukum seberat-beratnya," pungkas Aminah.
Dalam kronologis yang dibuat warga, Surullah sebelum tertembak polisi, sempat terlibat cekcok dengan beberapa anggota geng motor di depan Alfa Mart. Surullah yang membawa sebilah badik saat itu dikejar dan dilempari batu oleh para anggota geng motor tersebut. Saat Surullah lari ke arah utara jalan Veteran, ia tiba-tiba dikepung oleh sekitar 10 petugas dari Polsek Makassar, yang sebelumnya sempat memberi tembakan peringatan.
Saat dikepung, Surullah digebuki oleh polisi sampai akhirnya ia roboh di jalan. Surullah pun dibawa ke RS Bhayangkara oleh polisi. Keluarga Surullah yang tiba di RS Bhayangkara menemukan Surullah yang telah menjadi mayat.
(mna/ndr)











































