RMI Jateng Protes Ponpes Dikesankan Jadi Pusat Radikalisme

RMI Jateng Protes Ponpes Dikesankan Jadi Pusat Radikalisme

- detikNews
Kamis, 14 Jul 2011 10:29 WIB
Semarang - Lembaga yang menghimpun sejumlah pesantren, Rabithal Ma'ahadil Islamiyah (RMI) di Jawa Tengah (Jateng) risih lantaran insiden ledakan di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ponpes dikesankan jadi pusat radikalisme. Padahal jumlah ponpes seperti itu hanya beberapa gelintir saja.

"Saya jamin tidak ada satu pun anggota kami yang beraliran radikal sebagaimana di Bima," kata Ketua RMI Jateng, Zaim Ahmad, melalui telepon, Kamis (14/7/2011).

Zaim menyebut jumlah anggota RMI di Jateng sekitar 300-an ponpes. Ponpes-ponpes ini selalu berkomunikasi dan saling memantau. Sejauh ini yang diajarkan hanya ilmu agama, budi pekerti, wawasan kebangsaan, dan ilmu umum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zaim mengakui insiden ledakan di ponpes Bima beberapa hari lalu, membuat ponpes tersudutkan. Berita-berita yang muncul menimbulkan kesan seolah-olah semua ponpes mengajarkan radikalisme. Jika tidak diluruskan, kesan itu sangat membahayakan eksistensi ponpes.

"Di Jateng memang ada (yang radikal), tapi bukan anggota kami," katanya tanpa menyebut ponpes yang dimaksud.

Zaim setuju jika ponpes yang diketahui mengajarkan radikalisme, ditutup saja. Sebab, selain tidak sesuai dengan karakter bangsa, ponpes seperti itu jauh dari visi-misi awal. Dulu, para founding father membangun ponpes sebagai pusat pendidikan, ekonomi, dan kehidupan berbangsa.

Untuk mengetahui ponpes beraliran radikal atau tidak, kata Zaim, ponpes tidak perlu diverifikasi. Sebab, hal itu malah menimbulkan masalah.

"Hasilnya mungkin bias dan kontroversial, karena sulit menentukan siapa yang memverifikasi dan bagaimana verifikasinya," terangnya.

Penilaian terhadap ponpes lebih baik dilakukan secara alamiah. "Yang penting terdaftar di Kemenag. Tapi kalau ada yang dianggap bermasalah, pasti tidak didukung masyarakat," pungkasnya.

(try/gun)


Berita Terkait