"Ada yang pulih. Kalau saat masih kecil begini dia bisa pulih. Ke depannya akan pulih seperti perempuan lainnya," kata psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Efnie Indrianie, kepada detikcom, Rabu (13/7/2011).
Efnie mengatakan, kejadian pemerkosaan tersebut memang akan meninggalkan luka batin yang besar bagi lima bocah ini. Kelimanya bisa mengalami kebencian kepada kaum lelaki. Mereka bisa saja takut memulai hubungan dengan laki-laki di masa depan, atau bahkan malah akan melakukan hubungan seksual terus menerus hingga ke seks bebas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Efnie, proses pemulihan bisa diawali dengan adanya bimbingan dari orangtua kepada anaknya untuk bisa memaafkan kejadian pemerkosaan tersebut. Jika anak tersebut sudah memaafkan kejadian tersebut, mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka seperti anak-anak lainnya hingga dewasa.
"Ada proses pemulihan untuk mampu memaafkan, bukan melupakan ya. Itu butuh pendampingan dan harus intensif," jelasnya.
Semua proses pemulihan tersebut membutuhkan terapi yang cukup panjang tergantung individual masing-masing anak. Ada yang bisa sembuh selama setahun, ada juga yang bertahun-tahun.
"Memang membutuhkan biaya lebih. Makanya korban didata lagi. Seharusnya ada lembaga yang mampu memfasilitasi korban layaknya rehabilitasi pecandu narkoba atau HIV AIDS," tutur Efnie.
(gus/vit)











































