“Kami titipkan tembakau ini supaya tidak lupa yang di dalam sana, ada kekayaan Indonesia yang harus dilindungi,“ kata Ketua Aliansi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Wisnubrata, saat meletakkan bibit tembakau, Rabu (13/7/2011).
Peletakan 3 bibit tembakau itu merupakan akhir dari aksi soal penolakan RPP Tembakau. Mereka menilai kebijakan tersebut sama dengan membuka impor dan mematikan petani nasional. Pemerintah menggunakan alasan kesehatan untuk legalitas RPP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang petani asal Jember menyatakan, kebijakan tersebut akan menggusur profesinya sebagai petani tembakau. Himbauan pemerintah untuk pindah menjadi petani jagung atau padi dianggap solusi yang sulit dilaksanakan.
“Ya nggak bisa. Pendapatannya berbeda, cara mengolahnya berbeda, pupuknya berbeda. Mudah kalau hanya ngomong suruh ganti nanam ini, nanam itu. Tapi kan yang ngomong nggak mempraktikkan,“ kata Momon.
“Misalkan sekarang nanam jagung. Kalau ada yang mau beli jagung. Nah jagung sudah impor. Beras impor. Keledai impor. Kalau panen harganya murah,“ tandas Momon.
(Ari/lh)











































