Warga Solo Sebut Tim Penilai Saripetojo Cuma Intelektual Tukang

Warga Solo Sebut Tim Penilai Saripetojo Cuma Intelektual Tukang

- detikNews
Rabu, 13 Jul 2011 12:27 WIB
Warga Solo Sebut Tim Penilai Saripetojo Cuma Intelektual Tukang
Solo - Sejumlah warga Solo yang kecewa dengan pembangunan mal di eks pabrik es Saripetojo, menganggap tim independen hanya tukang stempel Pemprov Jateng karena merestui pembangunan mal. Padahal tim itu berisi para akademisi universitas terkemuka.

Sekitar seratus orang dari Forum Komunitas Masyarakat Surakarta (FKMS) berunjuk rasa di depan eks Saripetojo di Purwosari, Solo, Rabu (13/7/2011). Mereka menegaskan sikap menolak didirikannya mal di lokasi tersebut.

Selain itu massa juga mempersoalkan rekomendasi dari tim independen yang dinilai hanya sebagai stempel kepentingan Pemprov. Padahal para anggotanya adalah akademisi dari berbagai universitas terkemuka di Jateng dn DIY. Tim yang dipimpin mantan rektor Undip, Eko Budiharjo, tersebut terdiri dari, Sudharmono dan Bambang Triratma (UNS Surakarta), Dr Amiluhur Soeroso dan Sektiadi (UGM Yogyakarta), dan Gutomo (BP3 Jateng).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil kajian tersebut menyatakan bangunan eks Saripetojo tak layak disebut bangunan cagar budaya. Bangunan itu hanya dinilai kuat di aspek kesejarahan, namun tidak memenuhi syarat lainnya untuk dikategorikan bangunan cagar budaya, yaitu estetika, kejamakan, kelangkaan, keistimewaan, dan daya dukung terhadap kawasan.

Namun rupanya tim itu tidak kompak. Sudharmono mengaku tidak pernah ikut rapat tim namun tiba-tiba muncul hasil rekomendasi dan dirinya diminta menandatangi dengan disertai pemberian uang sebesar Rp 5 juta. Sudharmono menolak dan menyatakan keluar dari tim.

Kondisi itulah yang disayangkan oleh FKMS. Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Eko Budihardjo mereka sebut sebagai tim pesanan yang fungsinya hanya sebagai tukang stempel kepentingan Pemprov yang dengan segala kekuatan ingin mendirikan mal di lokasi tersebut.

"Sangat disayangkan, para ilmuwan yang selama ini diperhitungkan kredibilitasnya sebagai intelektual, ternyata tak lebih dari intelektual tukang. Rekomendasi tim independen merupakan bentuk nyata dari pengkhianatan kaum intelektual yang notabene berlindung di balik institusi perguruan tinggi ternama di Jateng dan DIY," ujar Bambang Christianto, koordinator aksi.

Aksi tersebut diikuti oleh massa dari berbagai kalangan, dari penarik becak, pedagang buah, pedagang pasar, aktivis, hingga sejumlah anggota DPRD Kota Surakarta.


(mbr/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini