Informasi dari www.vsi.esdm.go.id, Selasa (12/7/2011), aktivitas letusan tidak pernah terjadi lagi sejak tanggal 6 September 2009. Aktivitas kawah cenderung dicirikan hembusan asap dengan tinggi 50 hingga 500 meter.
Hembusan asap sejak awal Juni hingga Juli, tinggi hembusan asap dari Gunung Slamet cenderung menurun. Pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2011, teramati hembusan asap dengan tinggi 50 sampai dengan 200 meter di atas puncak, berwarna putih tipis hingga putih sedang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan tanggal 1 hingga 10 Juli 2011, terekam 789 kali gempa hembusan, 2 kali gempa tektonik lokal (TL), dan 2 kali gempa tektonik jauh (TJ). Temperatur mata air panas Pasepuhan dan Pandansari di gunung itu juga mengalami penurunan bila dibanding sebelumnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, Gunung Slamet saat ini dalam masa pembentukan kubah dan berpotensi terjadinya hembusan asap atau semburan material yang jatuh di sekitar kawah aktif. Karena aktivitas yang terus menurun, per 11 Juli 2011 pukul 12.00 WIB, status gunung ini resmi diturunkan dari waspada (level II) menjadi normal (level I).
Kendati berstatus normal, namun warga diminta tidak mendekati kawah aktif Gunung Slamet. Selain itu, warga juga diimbau tidak bermalam dan berlama-lama disekitar puncak Gunung Slamet. Masyarakat di sekitar Gunung Slamet, yang berada di Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, Purbalingga diharap tenang dan tetap waspada, serta tidak terpancing isu-isu tentang letusan gunung tersebut.
Pemantauan aktivitas gunung akan selalu dilakukan intensif. PVMBG menjamin akan selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat agar masyarakat mendapatkan informasi yang memadai.
(vit/nrl)











































