Golkar mendorong Presiden SBY untuk mengubah gaya kepemimpinan. Ketegasan presiden dalam mengambil sikap akan memaksa menteri untuk bekerja lebih maksimal mensukseskan pemerintahan.
"Dalam fatsun komando atau militer, tidak ada anak buah atau prajurit yang salah. Jika ada tugas gagal atau perintah tidak jalan, komandanlah yang salah. Reshuffle kabinet atau bongkar pasang pasukan pun tidak akan efektif jika pemimpinnya tidak segera merubah gaya yang lebih tegas," ujar Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, kepada detikcom, Rabu (13/7/2011).
Menurutnya, presiden harus berani mengambil sikap tegas. Mengevaluasi kinerja menteri yang tidak maksimal secara konkret dan terkontrol.
"Ini soal kepemimpinan dan kebesaran nyali dalam mengambil resiko dari sebuah keputusan. Bukan menggantung atau menghidar. Kabinet dirombak pun ngga akan ngaruh. Apabila 'gaya' kepemimpinan yang sekarang ini tidak dirubah dan tetap mengedepankan pencitraan yang semu," paparnya.
Waktu yang masih tersisa sebaiknya digunakan Presiden SBY untuk membenahi kinerjanya. Karena rakyat menunggu kerja konkret pemerintah.
"Masih ada waktu 2,5 tahun untuk membalikan keadaan. Publik sangat mengharapkan pemerintah ini tidak menjadi pemerintahan 'jaka sembung'. Alias nggak nyambung dengan persoalan-persoalan mendasar rakyat: ekonomi dan kesejahteraan serta keadilan hukum tanpa pandang bulu," tandasnya.
(van/feb)











































