"Keinginan mempercepat pemilu menjadi salah satu opsi yang dilakukan, karena kecepatan perubahan," ujar aktivis mahasiswa tahun 1980-an, Fadjroel Rahman, saat berbincang dengan detikcom, Senin (11/7/2011).
Menurut Fadjroel, proses reformasi yang terjadi pada tahuun 1998 di Indonsia, kemungkinan juga akan terjadi di Malaysia dengan melihat sikap dari pemerintah yang menangkapi sekitar 1.600 aktivis kelompok oposisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, Fadjroel belum bisa meramalkan apakah penyelesainnya akan sama seperti dengan Indonesia saat Presiden Soeharto turun dari jabatannya 1998 lalu. Sebab kondisi yang tercipta di Malaysia, lanjut Fadjroel, berawal dari krisis politik menuju krisis ekonomi.
"Ini betul perpaduan massa dan partai oposisi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka mau ikut kalau Undang-undang Pemilu tidak diubah? Paling tidak mereka belajar dari Aung San Suu Ki," ujarnya.
Fadjroel juga menyebutkan, pimpinan partai oposisi Anwar Ibrahim, mengakui dirinya belajar dari reformasi Indonesia pada kemampuan mengerahkan massa untuk menjatuhkan Soeharto.
"Dia percaya pengerahan kekuatan massa akan mampu menandingi kekuatan Najib. mereka sudah berusaha keras masuk parlemen. Tidak cukup hanya kekuatan di parlemen, tapi juga kekuatan massa," katanya.
(fiq/vit)










































