Korban Konversi UAN Hadiri Rapat Legislatif dengan Diknas
Kamis, 24 Jun 2004 16:06 WIB
Bandung - Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SMA yang telah diumumkan hasilnya masih menyisakan luka di kalangan mereka yang merasa dirugikan. Bahkan dua lulusan SMA ikut serta dalam rapat legislatif dengan Dinas Pendidikan.Dua lulusan SMA itu menghadiri Rapat Komisi E DPRD Jabar, Kamis (24/6/2004) yang mengagendakan klarifikasi pelaksanaan konversi Ujian Akhir Nasional (UAN). Keduanya menilai ganjil atas perolehan hasil UAN-nya. Mereka menuntut agar Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) mengeluarkan nilai asli yang belum dikonversi."Saya di sini merasa masih banyak kabut di kepala saya. Apakah nilai saya dinaikkan atau diturunkan. Kalau nilai saya ternyata dikurangi, saya kecewa. Saya ke sini mau menanyakan berapa sebenarnya nilai saya," kata Cecep Suryani, mantan pelajar kelas 3D (IPA) SMUN 5 di depan Anggota Komisi E, perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat, dan Komunitas Peduli Pendidikan Jawa Barat yang meminta audiensi mengenai klarifikasi konversi UAN.Menurutnya, banyak teman-temannya yang dirugikan akibat konversi nilai UAN tersebut. Misalnya, seorang temannya gagal sekolah ke Singapura karena nilainya yang 7,95 tidak memenuhi syarat minimal yakni 8.Cecep tidak datang sendiri. Dia ditemani kawan satu sekolahnya dari kelas 3E (IPA), Andi Fajar. Kepada detikcom, keduanya menceritakan ihwal kedatangannya ke gedung Dewan di Jl Diponegoro Bandung.GanjilSebelum Cecep mengetahui adanya konversi terhadap hasil perolehan UAN, dia melihat ada yang ganjil dari nilainya. "Terutama di nilai pelajaran Matematika, saya melihat tidak mungkin komanya demikian," katanya.Hasil ujian Cecep untuk tiga mata pelajaran UAN termasuk lumayan yakni Matematika (8,9), Bahasa Indonesia (6,92), dan Bahasa Inggris (7,78). Nilai Matematikanya 8,9 termasuk tinggi, namun nilai ini yang menjadi sumber pertanyaannya.Pasalnya, jumlah soal Matematika yang hanya 40 soal untuk benar berapa pun juga tidak mungkin menghasilkan nilai pembagi di belakang koma 9 (pada 8,9). "Seharusnya nilai di belakang koma kan hanya ada 4 variasi yakni 0; 0,25; 0,5; serta 0,75 tapi saya malah dapat 8,9," kata Cecep.Cecep pun mengujinya pada nilai-nilai hasil ujiannya untuk dua pelajaran lainnya, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang jumlah soalnya ada 60. Setelah menghitung-hitung sendiri dengan banyak variasi dia juga geleng-geleng kepala, sama dengan nilai pelajaran Matematikanya, melihat koma di belakang nilainya tidak mungkin muncul demikian.Dia sempat menanyakan temuannya tersebut pada guru-gurunya di sekolah. Tapi jawaban pihak sekolahnya tidak memuaskan. "Sampai saya tahu adanya Konversi UAN ini," kata Cecep."Saya paling takut nilai saya ditambah. Atau jangan-jangan malah dikurangi. Kalau ditambah ini membuat saya tidak pede. Tapi kalau dikurangi ya tidak apa-apa, saya malah bangga. Tapi dengan demikian saya merasa dibohongi oleh hasil UAN," kata Cecep.Sedangkan Andi Fajar, mengaku melihat hasil UAN-nya ganjil karena nilai perolehannya meleset satu angka dari standar yang sudah dibuatnya. "Saya merasa aneh dengan hasil STTB saya. Setelah saya bertemu dengan Cecep, saya juga akhirnya melihat keganjilan itu," katanya.KecewaKeduanya mengaku sengaja datang ke Gedung Dewan dalam Rapat Komisi E tersebut khusus untuk bertemu muka dengan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Iim Wasliman. Namun, harapan mereka berbuah kecewa yang ditunggu ternyata tidak datang. Yang mewakili Dinas Pendidikan Jawa Barat ternyata Kepala Sub-Dinas Pendidikan Menengah dan Dasar (Dikmendis) Bambang Sutrisno.Menurut Bambang, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat urung hadir karena dipanggil mendadak oleh Wakil Gubernur Jawa Barat untuk membicarakan kunjungan Presiden Megawati pekan depan. "Wagub memanggil mendadak untuk meminta masukan tentang pendidikan, sebab kedatangan Presiden ada kaitannya dengan bidang pendidikan," kata Bambang yang sebelumnya mengutarakan permintaan maaf atas ketidakhadiran Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat.Kendati Bambang merupakan Koordinator Pelaksanaan UAN Jawa Barat, hasil Rapat Komisi E DPRD Jabar yang berisi penyampaian aspirasi dari praktisi pendidikan di Jawa Barat, tidak ada keputusan yang bisa diambil. "Saya akan tampung dan sampaikan aspirasi yang didapat hari ini dan akan dibicarakan dengan Kepala Dinas," kata Bambang.Selain berbuntut kekecewaan kedua lulusan SMU itu, Cecep menilai yang dikatakan perwakilan Dinas Pendidikan dalam Rapat Komisi E makin mengecewakannya. "Pembicaraannya seperti satu arah. Tidak ada klarifikasi sama sekali. Apalagi yang datang hanya staf, tidak ada keputusan yang bisa diambil," katanya."Mau gimana, ibarat kita mau melawan, tapi karena yang mau dilawan tidak ada. Yang ada cuma stafnya saja," kata Andi mengungkapkan kekecewaannya.KeluhanKoordinator Komunitas Peduli Pendidikan Jawa Barat (KPPJB) yang juga ketua FAGI (Forum Aksi Guru Indonesia) Jabar, Iwan Hermawan, mengatakan bahwa keduanya sengaja diundang oleh pihaknya untuk ikut hadir dalam pertemuan di Komisi E DFPRD Jabar yang membahas Konversi UAN."Banyak siswa dari sekolah-sekolah yang mengirim SMS ke saya mengadukan hasil UAN. Dan kebanyakan malah datang dari sekolah-sekolah favorit di Kota Bandung. Selain Cecep dan Fajar dari SMUN 5 Bandung, yang lain diantaranya siswa SMUN 3 Bandung, SMU St Aloysius,dll," kata Iwan.Sedangkan Andi menambahkan, "Mengenai Konversi UAN, kesan yang ditimbulkan mungkin bagus. Untuk nilai yang rendah di angkat dan nilai yang tinggi dikurangi. Tapi caranya kurang bijak, kenapa sejak awal tidak diumumkan bakal ada Konversi."
(nrl/)











































