Agar Tak Diping-pong, Panja Mafia Pemilu Konfrontir Semua Pihak

Agar Tak Diping-pong, Panja Mafia Pemilu Konfrontir Semua Pihak

- detikNews
Kamis, 07 Jul 2011 20:11 WIB
Jakarta - Dewie Yasin Limpo memberikan keterangan yang jauh berbeda dengan keterangan dari pihak-pihak yang sebelumnya dihadirkan di Panja. Agar tidak merasa diping-pong, Panja akan menghadirkan semua pihak.

"Ya supaya kita tidak dilempar sana sini, kaya ping-pong akan kita hadirkan semua. Kita akan konfrontir semua, seperti ketika Andi Nurpati kemarin," ujar Ketua Panja Chairuman Harahap kepada wartawan usai rapat dengar pendapat Dewie Yasin Limpo di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/7/2011).

Menurut Chairuman, meski Dewie Yasin Limpo memberikan keterangan berbeda dari staf Panitera MK dan staf KPU yang telah dihadirkan terdahulu, namun pandangan Panja tidak akan berubah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi yang jelas fakta-fakta kemarin belum terbantahkan meskipun Dewie memberikan keterangan berbeda. Semuanya sudah jelas," terangnya.

Panja tetap berkeyakinan bahwa dalam kasus ini mantan anggota KPU, Andi Nurpati telah melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut karena Ketua Divisi Kominfo Partai Demokrat tersebut menggunakan surat MK palsu sebagai dasar untuk menentukan calon legislatif dari Dapil Sulawesi Selatan I, yakni Dewie Yasin Limpo.

"Surat yang asli tidak digunakan untuk rapat pleno tanggal 2 September. Ini sudah jelas, tinggal kita cari motifnya. Dengan mendengarkan keterangan semua pihak saya kira itu bisa dicari," imbuh politisi Golkar ini.

Sebelumnya Dewie membantah keterangan yang disampaikan staf panitera MK Nalom Kurniawan yang disampaikan ke Panja beberapa waktu lalu.

"Saya tidak pernah meminta surat kepada Nalom. Itu tidak pernah, bohong itu," ujar Dewie di hadapan Panja Mafia Pemilu di ruang rapat Komisi II DPR.

Nalom Kurniawan pernah membeberkan bila Dewie Yasin Limpo meminta surat yang ia akan serahkan ke KPU. Surat tersebut adalah surat mengenai penjelasan MK bahwa surat dengan Nomor 112 tertanggal 14 Agustus adalah palsu.

Namun saat bertemu dengan Dewie di halaman gedung KPU, politisi Hanura ini kemudia meminta surat tersebut. Awalnya Nalom enggan memberikan surat tersebut, namun karena Dewie Yasin Limpo menelpon seseorang. Kemudian surat itu ia berikan.

"Tadinya tidak saya berikan, terus Ibu Dewie menelpon seseorang dan berbicara dengan bahasa Makassar. Telepon itu lalu diberikan kepada saya, dan ternyata yang berbicara Ibu Neshawati. Nesha meminta saya menunjukan surat itu ke Ibu Dewie, katanya itu atas perintah hakim Arsyad," ujar Nalom beberapa waktu lalu saat memberikan klarifikasinya di Panja.

Namun keterangan Nalom itu pun dibantah Dewie. "Saya itu ditelpon kakak saya di Makassar. Dia menanyakan kabar saya dan posisi saya di mana. Karena saat itu saya baru selesai operasi," bantah Dewie.

(her/rdf)


Berita Terkait