"Selama ini bergerak sebagai ormas, namun kemudian menjadi partai. Karena menjadi partai kami menjadi sulit, terutama di daerah-daerah," kata Sultan usai berdialog dengan warga Merapi di Shelter Gondang I, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis (7/7/2011).
Menurut Sultan, faktor utama kebingungan itu adalah kemiripan antara partai Nasdem dan ormas Nasdem. Singkatannya sama dan logonya pun mirip.
"Partai Nasdem itu kan singkatan dari Nasional Demokrat. Sedangkan logo yang digunakan hanya kebalikan dari logo Nasdem yang ormas," kata Sultan.
Akibatnya, para pengurus ormas Nasdem menjadi kesulitan menjelaskan kepada para kader ormas tersebut. Apalagi, banyak kader Nasdem yang tidak setuju mereka menjadi parpol.
"Kami tidak bisa menjelaskan secara proporsional kepada pengurus di daerah-daerah, yang mayoritas adalah para PNS dan tidak setuju dengan partai," ungkap Sultan.
Sultan menyebutkan, 75 persen dari kader Nasdem di daerah adalah PNS. Oleh karena itu, Sultan ingin Nasdem tetap menjadi ormas, bukannya parpol.
"75 Persen pendukung Nasdem di daerah adalah PNS, dan bagi saya sampai sekarang Nasdem tetap ormas," kata Sultan.
(bgs/fay)











































