"Ini sudah wasiat almarhum kalau saya yang diminta urus anaknya," kata Erna kepada detikcom di rumah duka, Kp Bulak, RT 1 RW 16, Klender, Jakarta Timur, Rabu (6/7/2011).
Menurutnya, wasiat itu datang seminggu sebelum Vonie ditemukan tewas mengenaskan. Saat itu Vonie meminta Erna menjaga dan merawat balita bernama Agung Karisma (8 bulan) bila dia suatu waktu tidak pulang ke rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bapaknya Vonie semalam mau ambil ini anak tapi saya enggak kasih. Saya takut diajak ngemis. Saya mau besarin biar Agung jadi orang bener," kata Erna yang berbalut gelang dan jam emas di kiri-kanan tangannya.
Erna membantah, dirinya menahan memberikan Agung kepada keluarga Vonie karena alasan utang piutang.
"Saya sudah relakan utangnya. Orangnya udah nggak ada, mau bagaimana? Vonie itu sudah kayak anak saya sendiri," Erna membantah.
Seperti anak sendiri, maksudnya?
"Selama Agung lahir, saya yang rawat dia. Dari pampers sampai susunya setiap hari saya yang beli," ujarnya.
Mengenai utang-piutang korban dengan dirinya, Erna tidak menampik hal tersebut. Menurut perhitungannya hutang Vonie mencapai Rp 8,5 juta. Uang tersebut digunakan untuk biaya syukuran pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Albert.
"Dia pernah juga pinjem Rp 2 juta buat suaminya. Katanya suaminya itu ngilangin duit kantor," ujarnya.
Vonie ditemukan tewas mengenaskan dengan luka gorokan di leher kanan, Selasa (5/7/2011). Jasadnya terkapar di selokan Jl I Gusti Ngurah Rai, tak jauh dari Lapas Cipinang. Polisi menemukan satu buah mata cutter yang berlumuran darah. Polisi menduga cutter itu digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa Vonie.
(ahy/gah)











































