"Sejak erupsi 2006 hingga 2010 kemarin mengarah ke selatan. Erupsi tahun lalu mengakibatkan kerusakaan yang banyak dan korban jiwa," ungkap Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo, dalam acara Dialog Gubernur DIY bersama Masyarakat Korban Erupsi Merapi 2010 di Huntara Plosokerep, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Selasa (5/7/2011).
Dia mengatakan setelah letusan tahun 1930 itu, telah terbentuk kawah baru di sisi selatan. Namun pada erupsi 2010 telah membuka kawah dengan diameter 500 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan berdasarkan pengalaman sejarah, letusan Merapi itu sama sekali tidak teratur. Merapi juga punya masa istirahat erupsi antara 1-18 tahun. Dulu setahun berurutan seperti tahun 1997-1998 ke arah barat daya, kemudian ke arah utara pada tahun 1954-1956. Bahkan pernah beristirahat panjang selama 18 tahun.
"Ancaman utama Merapi adalah awan panas dengan suhu berkisar 500-600 derajat Celcius serta efek gas racun CO2 sehingga bisa menimbulkan korban jiwa," katanya.
Menurut dia, dari jenis letusan kadang normal dengan ditandai pembentukan kubah lava dan munculnya awan panas. Namun kadangkala tidak normal seperti peristiwa erupsi tahun lalu.
"Sampai saat ini status masih Waspada (Level II)," katanya.
Acara dialog dengan warga Dusun Pelemsari/Kinahrejo dan Dusun Pangukrejo Desa Umbulharjo, Cangkringan itu untuk membahas kejelasan mengenai adanya relokasi bagi warga korban erupsi Merapi. Dalam acara itu dihadiri Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bupati Sleman Sri Purnomo dan Wakil Bupati Sleman, Yuni Satiya Rahayu. Warga berharap melalui dialog itu pemerintah bisa menerima dan mengakomodasi semua aspirasi warga Merapi.
(bgs/fay)











































