Minimnya jumlah pembeli ini lantaran lokasi jambore yang jauh dari pusat pemukiman, sehingga tidak dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Pengunjung pun sulit untuk pergi ke lokasi dengan kendaraan, karena bensin dan solar sulit diperoleh
"Saat sampai di lokasi, para pengunjung pun harus membayar Rp 10 ribu agar dapat masuk ke sini," kata Dedeng, seorang pedagang pakaian dan makanan yang memiliki stand.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kebutuhan para pedagang juga tinggi. "Dua hari terakhir, kami terpaksa menggunakan lilin, sebab listrik belum dialiri panitia ke stand. Lalu, kami harus ke luar lokasi buat membeli air bersih. Ditambah lagi kami harus mengeluarkan uang buat mandi," katanya.
Harga makanan juga tinggi, yakni Rp 15 ribu per bungkus. "Kalau pakaian hanya satu laku satu buah, masih belum cukup memenuhi kebutuhan satu penjaga per hari," tambahnya.
Oleh karena itu, Dedeng berharap Pertamina segera mengatasi krisis BBM di OKI, sehingga banyak warga OKI yang mau berkunjung ke lokasi. "Termasuk juga biaya tiket masuk ditiadakan atau dikecilkan, lalu panitia menyediakan air bersih dengan benar di setiap kamar mandi," ujarnya.
(tw/fay)











































