Sebanyak 2.000 orang diperkirakan kini tengah berada di Kuala Kencana. Sementara 5.000 orang diperkirakan masih dalam perjalanan dari Tembagapura ke Timika.
Aksi mogok masal ini dikarenakan manajemen Freeport Indonesia dinilai tidak bersedia membuka ruang untuk mengadakan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan SPSI PT Freeport Indonesia, Senin (4/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka itu PTFI pecat 6 orang karyawan yang adalah anggota SPSI karena pengurus yang ada dianggap tidak sah. Kan sebenarnya beri ruang dulu agar persoalan ini kita bahas bersama dalam sebuah perundingan. Kita menghormati segala bentuk perundingan, karena itu yang diharapkan oleh
seluruh karyawan yang bekerja di Freeport," tuturnya kepada wartawan, via telepon selulernya.
Menyikapi hal ini, Juru Bicara PTFI, Ramdani Sirait, saat dihubungi detikcom mengaku Serikat pekerja PT Freeport Indonesia telah memulai aksi mogok kerja pada tanggal 4 Juli. Menurutnya, perusahaan telah berusaha untuk memulai perundingan terkait Perjanjian Kerja Bersama untuk periode 2 tahun ke depan yang akan dimulai pada Oktober 2011. Namun, pimpinan serikat tidak bertemu dengan perusahaan karena terjadinya kerancuan mengenai perubahan kepemimpinan dalam serikat.
Sementara itu, pihak Freport terus berusaha untuk berkomunikasi dengan pimpinan serikat dan karyawan dan telah mengimbau para karyawan untuk kembali bekerja. Sementara, masalah ini tetap akan diselesaikan guna menghindari dampak-dampak terhadap perusahaan dan karyawan.
"Karena PTFI akan bekerja dengan anggota serikat yang telah ditunjuk untuk menyelesaikan masalah ini sampai kedua belah pihak mencapai persetujuan. Sedangkan proses pengiriman konsentrat tidak terganggu sampai saat ini," ucapnya.
Salah satu hal yang menarik dari peristiwa mogok masal tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Tonggoi Papua (organisasi pekerja PTFI yang merupakan masyarakat asli Papua) melalui surat yang ditandatangani Ketua Frans Pigome dan Sekretaris Rolla Nuboba mengatakan posisi Tonggoi Papua netral menyikapi aksi mogok tersebut. Karyawan dari anggota Tonggoi tetap bekerja tapi mereka mendukung perundingan agar dapat berjalan dengan baik. Tonggoi Papua juga menegaskan tidak bertanggung jawab atas tindakan berbagai anggota yang tidak mematuhi keputusan organisasi.
(fay/fay)











































