"Biasanya nggak begini. Kenapa jadi lama yah?" kata Romi saat ditemui detikcom di Stasiun Depok Lama, Senin (4/7/2011).
Romi terbiasa berangkat dengan kereta ekonomi menuju Manggarai sekitar pukul 07.10 WIB. Namun hingga sekitar pukul 08.00 WIB, kereta ekonomi tak kunjung tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal sama juga diutarakan Beben, yang hendak menuju Tanah Abang menggunakan kereta ekonomi. Beben merasa, kedatangan kereta ekonomi menjadi berkurang, semenjak commuter line diberlakukan.
"Harusnya ekonomi juga tetap dipikirkan dong. Kan banyak juga masyarakat menengah ke bawah yang masih pakai ekonomi," cetus Beben.
Beben memang bukan pengguna setia ekonomi. Saat belum ada commuter line, terkadang ia pun sering menggunakan kereta ekspres. Beben pun mengaku tidak keberatan dengan kehadiran commuter line.
"Untungnya harga (commuter line) turun jadi Rp 6 ribu (Depok-Jakarta). Padahal kan tarif ekspres sekitar Rp 9.500," ungkap Beben.
Mengenai kondisi ini, Kepala Stasiun Depok Lama, Dwi menjelaskan tidak ada perbedaan yang signifikan untuk kereta ekonomi semenjak kehadiran commuter line. Imbas commuter line, hanyalah peniadaan kereta ekonomi AC dan ekspres.
Dalam sehari, jalur Bogor-Jakarta bisa dilalui oleh 34 kereta ekonomi. Kereta ekonomi pun biasanya datang setelah 3 hingga 4 kereta commuter line.
"Jadi tidak benar itu isu yang adanya 7-1 (tujuh commuter line baru disusul oleh kereta ekonomi)," ujar Dwi saat ditemui detikcom di ruang kerjanya.
Pengamatan detikcom, meski terkadang tidak sesuai jadwal yang ditempel di papan informasi, kereta commuter line rutin datang. Berbeda hal untuk kereta ekonomi yang datang setelah 3-4 commuter line.
Saat kereta datang, baik ekonomi maupun commuter line, penumpang langsung menyerbu masuk. Khusus untuk ekonomi, penumpang yang ada pun tetap duduk hingga di atas atap kereta.
(mok/nik)











































