"Yang selama ini jadi hambatan PPP adalah dalam melakukan diferensiasi. Mereka punya landasan partai ideologi, pemimpin partai Islam, tapi sulit menurunkan ideologi dan sikap kritis. Ini yang jadi tantangan. Kalau tidak berbeda ya akan sama saja (suaranya)," tutur pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Widjaya, Senin (4/7/2011).
Menurut Yunarto, pertarungan dalam Muktamar VIII PPP adalah pertarungan sosok yang pro koalisi dan yang cenderung kritis, atau Suryadharma Ali (SDA) versus non Suryadharma Ali. Pertarungan ini terbaca jelas, dan terlihat SDA memiliki peluang yang lebih besar ketimbang calon-calon lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memanasnya situasi di tubuh PPP ditengarai akan membuat partai ini terpecah posisi politiknya. Meskipun memang sejak beberapa waktu lalu, perpecahan ini sudah kentara terlihat, misalnya dalam kasus Bank Century dan mafia pajak.
"Sebenarnya apa pun pilihan ketumnya, konflik akan terjadi. Saya kira konflik adalah dialektika yang bagus dalam partai dan ini akan menjadi PR utama," imbuh Yunarto.
Dia berpendapat, kendati kondisi partai memanas namun tidak akan sampai memunculkan partai baru. Yang paling mungkin terjadi adalah, sosok-sosok potensial dalam partai akan keluar.
"Biasanya yang membuat partai tandingan itu terjadi di partai besar yang mapan tapi di bawahnya kopong. Misalnya ini pernah terjadi di PDIP dan Golkar.Tapi saya kira PPP tidak dalam fase itu," tambah dia.
Menurut dia, masalah konsolidasi harus diselesaikan sehingga tidak menjadi bumerang. "Titik perpecahan di PPP bahkan terjadi pra 2009. Konsolidasi harus terus dikuatkan agar tidak semakin meruncing," sarannya.
Selain Suryadharma, Ahmad Muqowam dan Ahmad Yani bersaing dalam perebutan kursi nomor satu di PPP. Sebelumnya nama Muchdi Pr sempat mencuat, namun dia batal ikut berkontestasi dan malah merapat ke Muqowam.
(vit/fay)










































