Ruwatan 7 Anak Rambut Gimbal di Dieng Berlangsung Meriah

Ruwatan 7 Anak Rambut Gimbal di Dieng Berlangsung Meriah

- detikNews
Minggu, 03 Jul 2011 16:19 WIB
Ruwatan 7 Anak Rambut Gimbal di Dieng Berlangsung Meriah
Dieng - Ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa Tengah memadati Kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (03/07/2011). Mereka ingin melihat ruwatan rambut gimbal yang termasuk dalam rangkaian acara hari terakhir kegiatan "Dieng Culture Festival 2011".

Dalam acara ruwatan tersebut terdapat tujuh bocah berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan potong rambut di komplek Candi Arjuna. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di Dieng, Wonosobo dan sekitarnya, anak yang memiliki rambut gimbal dianggap bisa membawa musibah atau masalah di kemudian hari, sehingga mesti diruwat, karena dipercaya akan mendatangkan rezeki dan si anak dapat hidup normal dengan rambut yang normal.

Salah satu orang tua anak rambut gimbal yang sempat diwawancarai detikcom, Iranto (35) menuturkan ketika pertama kali anaknya mempunyai ciri-ciri rambut gembel pada umur 2 tahun.

"Pada waktu umur dua tahun, Muroah (6) sering sakit-sakitan hingga demam tinggi. Beberapa waktu kemudian rambutnya mulai menggimbal," jelasnya.

Sebagai tradisi masyarakat Dieng, jika mempunyai anak yang berambut gimbal, kedua orang tuanya harus memenuhi segala permintaan anak tersebut. Muroah, menurut Iranto meminta anting emas 1 gram dan baju muslim serta sandal yang lantas dipenuhi orang tuanya.

Selain Muroah terdapat tujuh anak rambut gimbal lainnya yang mempunyai permintaan yang berbeda-beda pula. Seperti Suaibatul Asiamiah yang meminta sepeda ontel warna jambon; Nurseli Selina yang meminta ikan asin dan pindang dua keranjang; Fajar yang meminta wedhus (kambing) brengos dan tempe kemul 100; Naisila yang meminta minyak rambut, bekel dan boneka; Mutoharoh yang meminta tempe mentah 500 biji dan Dewi Anjani yang meminta telur 600, tempe dan tahu matang masing-masing satu buah.

Kesemua permintaan bocah rambut gimbal tersebut harus dipenuhi oleh kedua oarangtuanya, karena menurut tradisi jika tidak, rambut anak gimbal tersebut akan kembali tumbuh.

Secara terpisah menurut Pemangku adat Dieng, Mbah Naryono mengatakan cukur rambut gimbal dilakukan di antara Candi Arjuna dan Candi Semar. Hasil cukuran akan dilarung ke Telaga Warna.

"Sebelumnya ada acara kirab dari rumah pemangku adat sampai areal candi lalu jamas (mencuci) rambut gimbal, potong rambut gimbal. Setelah selesai, larungan, membuang rambut dengan cara menghanyutkan," katanya.

Sedangkan menurut Kepala UPTD Kawasan Tinggi Dieng, Ibnu Hasan, mengatakan pengunjung di kawasan tinggi Dieng mengalami penurunan dari tahun kemarin pasca erupsi kawah Timbang di Pegunungan Dieng, namun saat ini mulai berangsur-angsur pulih.

"Saat ini pengunjung di kawasan tinggi Dieng mulai naik sekitar lima persen setelah sebelumnya mengalami penurunan pasca erupsi Kawah Timbang. Kita harapkan kegiatan ini dapat menjadi media promosi wisata sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisata di Dieng," tuturnya.

(nwk/nwk)


Berita Terkait