Perwakilan WWF Indonesia di Riau, Soemantri alias Abeng mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (3/7/2011) di Pekanbaru. Menurut Abeng, informasi yang dihimpun WWF di lapangan, konflik pertama terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu.
Di kabupaten tersebut, harimau memasuki perkampungan warga. Satwa dilindungi itu memangsa ternak warga seperti sapi dan kambing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik kedua terjadi di areal konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Siak. Di sana seorang pekerja dari kontraktor PT RAPP sempat dikejar harimau. Bersyukur pria itu selamat dari buruan si belang itu.
"Dengan kondisi dua konflik yang terjadi selama Juni, ini menandakan konflik akan terus berlangsung. Karena itu kita minta warga dan pihak perusahaan, agar tidak membunuh harimau. Bila melihatnya, segera melaporkan ke pihak terkait, agar segera dilakukan penanganan tanpa harus membunuhnya," kata Abeng.
Sebagaimana diketahui, sebelumnya tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan WWF Indonesia menemuka harimau dalam kondisi terjerat di areal Hutan Tanaman Industri (HTI) di PT Arara Abadi di Kabupaten Pelalawan. Kendati ini tidak termasuk kategori konflik, namun hal itu terkait perburuan.
"Kita juga minta pihak perusahaan untuk saling mengawasi warga yang memasang jerat dengan dalih untuk jerat babi. Seperti yang kemarin, yang masuk jerat justru harimau dan akhirnya mati," kata Abeng.
(cha/van)










































