"Kita sangat menyayangkan sekali atas kematian harimau sumatera tersebut. Kondisinya sangat memprihatinkan. Selama enam hari terjerat, kaki depannya membusuk dan sudah ada belatungnya. Memasuki hari ketujuh, ketika kita akan melakukan upaya penyelamatan, harimau jantan berusia sekitar 1,5 tahun itu mati," kata Soemantri alias Abeng dari WWF Indonesia di Riau dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (2/7/2011).
Abeng menjelaskan, harimau ini ditemukan di lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PR Arara Abadi anak Sinar Mas Group di Kecamatan Pangkalan Kuras, Kab Pelalawan, Riau. Berdasarkan pengakuan warga, jerat itu sudah dipasang sejak akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abeng juga menceritakan, sejak jerat dipasang warga, hari kedua setelah pemasangan sudah dikatahui yang terperangkap adalah harimau. Namun baru pada hari keenam warga melapor ke Polsek setempat. Dari sana pihak kepolisian memberitahukan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Dari sana WWF dan BBKSDA turun ke lapangan pada Jumat (1/7/2011).
"Artinya, selama enam hari harimau itu tidak mendapat minum karena kaki depannya masuk jeratan tadi. Ujung jeratan yang terbuat dari besi itu telah membuat luka kaki depan sebelah kanannya. Kondisinya membusuk dan sudah nampak tulang sumsumnya," kata Abeng.
Ketika pagi hari tim turun ke lokasi, kata Abeng, kondisi harimau masih hidup dengan kondisi badannya yang kurus. Harimau juga terlihat kekurangan air minum. Tim mencoba memberikan pertolongan seadaanya kendati kondisinya sudah sangat mengenaskan.
"Pagi hari kita tangani, siang harinya harimau ini pun mati. Kita sangat menyayangkan atas kematian harimau ini. Kita juga menyangkan mengapa baru hari ke enam warga baru melaporkannya ke pihak kepolisian. Mungkin andai saja sejak awal masyarakat melapor, ada kemungkinan masih bisa terselamatkan," kata Abeng.
(nal/nal)










































