Menikmati Lembayung Celebes di Atas Jalanan yang Babak Belur

Menikmati Lembayung Celebes di Atas Jalanan yang Babak Belur

- detikNews
Jumat, 01 Jul 2011 15:54 WIB
Menikmati Lembayung Celebes di Atas Jalanan yang Babak Belur
Bungku - Terik mulai menggelayuti Desa Sorowako, Sulawesi Selatan. Beberapa pekerja tambang International Nickel Indonesia (Inco) terlihat santai menikmati hembus lembut angin di tepian Danau Matano yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara.

"Bahkan kedalamannya bisa melebihi kedalaman laut," kata Iskandar Siregar, Humas PT Inco, kepada wartawan.

Dari tepian anjungan terlihat kapal pengangkut tradisonal wara-wiri menyeberangi desa di seberang danau, Desa Nuha. Kapal itu berbentuk seperti dua tongkang kembar yang berada di kiri-kanan. Sementara tengahnya dipasangi kayu panjang sekitar 4 meter dan biasa digunakan untuk mengangkut warga yang hendak menyeberang. Bukan hanya warga, mobil dan motor pun bisa diangkut dengan kapal yang biasa disebut raft oleh warga sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya lupa menyampaikan, untuk mencapai Sorowako dari Makassar dapat melalui jalur darat atau udara. Bila melalui jalur darat memakan waktu 12 jam dan menempuh sekitar 600 kilometer. Sementara jalur udara dapat ditempuh 45 menit dengan menggunakan pesawat. Kali ini, perjalanan saya menggunakan pesawat jenis Fokker 50 dari Makassar ke Sorowako. Di atas pesawat berkabin kecil itu, mata senantiasa dimanjakan pemandangan hijau gunung yang membentengi Makasar dan Kabupaten-Kota lainnya di Sulawesi Selatan.

Sorowako merupakan tempat transit kami sebelum menuju Morowali, Sulawesi Tengah. Menyeberang Danau Matano ke Desa Nuha dari Sorowako merupakan jalan pintas menuju Morowali. "Kalau tidak lewat danau bisa sampai besok siang di Morowali," kata kernet bus, Ovel, dengan logat Poso-nya.

Ovel menyebut, jarak dari Nuha menuju Morowali dapat dicapai 4-5 jam perjalanan. Dia tidak tahu persis berapa jarak yang akan dilalui rombongan menuju Morowali. "Lebih dari 100 kilo (km)," katanya.

Sebelum memasuki bus yang akan membawa kami ke Sulawesi Tengah, Ovel menyarankan setiap orang agar tidak menahan bila ingin buang hajat. "Maklum di depan hutan semua," katanya.

Jalan menuju Morowali tidak beraspal. Banyak batu dan pasir dan membuat gumpalan debu setiap kendaraan yang melintas. Ruas jalan bak ular piton ganas yang mencari mangsanya. Berliku dan naik-turun gunung.

Tapi, kondisi itu terbayar dengan hamparan hijau bebukitan dan gunung yang mengapit lajur perjalanan kami. Ditambah lagi jingga lembayung sedikit malu-malu muncul di balik gunung penghibur perjalan.

Sekadar mengingatkan, jangan pernah mengerutkan kening saat Anda terpental-pental di dalam kendaraan melintasi jalan butut. Sebagai obat, mintalah diputarkan dangdut remix untuk memadukan 'goyang' di dalam kendaraan dengan lantunan sang biduan. O ya, satu penumpang ditarik Rp 100 ribu untuk sekali antar dari Desa Nuha ke Morowali. Hmm... Cukup murah ketimbang jalan ratusan kilo di tengan hutan belantara.

Pukul 18.30 WITA, lembayung mulai menampakan jingga pekatnya. Melukis hijau gunung menjadi keemasan. Cukup menghibur perjalanan. Lembayung pamit, berganti malam. Tidak ada penerang jalan di sepanjang jalan. Rumah penduduk tampak diterangi lampu sekadarnya hasil penyerapan baterai tata surya.

Pukul 22.00 WITA kendaraan yang ditumpangi baru bertemu SPBU. Bagi para penumpang menjadi sebuah berkah karena dapat sedikit meluruskan tulang punggung dan meregangkan pantat. Maklum, berjam-jam terpental dari tempat duduk.

Pukul 23.30 WITA, saya tiba juga di Bungku, ibukota Kabupaten Morowali. Tidak banyak aktivitas warga di desa tersebut. Di beberapa rumah, berjajar kumpulan laki-laki dewasa asyik bermain kartu di meja bundar bak sebuah kompetisi lomba kartu 17 Agustus-an.

Perjalanan Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tengah cukup menyenangkan meski jalanan tak semulus Ibukota. Pulau Celebes, julukan Sulawesi zaman dahulu, dan Ibukota Negara memang terpisah jarak yang jauh, tapi pembangunan infrastruktur seharusnya bisa merata.

(ahy/nwk)


Berita Terkait