"Orang Jakarta kan kaya-kaya, harusnya warga rela gantian pakai jalan. Itu bisa diterapkan dua-duanya," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto usai menghadiri peringatan HUT Bhayangkara ke-65 di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (1/7/2011).
Prijanto menyadari penambahan jumlah kendaraan di Jakarta seolah tidak bisa terbendung lagi. Oleh karena itu, warga harus rela sedikit berkorban dengan kebijakan yang diterapkan kalau tidak ingin ruas jalan di ibukota menjadi stagnan akibat tumpukan kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait rencana pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap, Prijanto mengaku pihaknya masih akan melakukan kajian mendalam dengan Polda Metro Jaya. Yang jelas, untuk jangka pendek sistem ini mempunyai dampak positif.
"Masih pembicaraan di Polda dan Pemprov (DKI). Data sekarang, itu (ganjil-genap) paling mungkin, soalnya merupakan salah satu cara mengurai kemacetan yang masuk dalam rencana Pola Transportasi Makro selain membangun angkutan massal yang butuh waktu, begitu juga penambah jalan," kata Prijanto.
"Dan pembatasan kendaraan ini sebagai jangka pendek ini sambil menunggu siapnya transportasi massal kalau tidak macet akan terus terjadi tanpa adanya kesadaran tinggi," kata Prijanto.
Saat ini usulan itu tengah dikaji kedua belah pihak. Dia menyarankan rencana ini benar-benar dikaji serius.
"Di sinilah diperlukan suatu saran semua pihak, tapi ganjil-genap ini perlu dikaji bagaimana tehniknya, apakah ini perlu atau tidak meluas ke seluruh Jakarta, tatkala memasiki ruas tertentu. Sebab, logikanya macet itu karena kapasitas jalannya itu tetap," tandas pria kelahiran Ngawi ini.
(lia/ken)











































