Pemberlakukan sistem Commuter Line membuat setiap KRL berhenti di setiap stasiun. Namun yang menjadi masalah adalah penumpang KRL non-AC yang banyak menyerobot naik ke kereta AC. Hal ini disebabkan penumpang KRL non-AC banyak yang tidak sabar menunggu kereta mereka datang.
"Memang ini akan lebih optimal jika semua kereta di Jabodetabek memiliki jenis yang sama dan tarif yang sama. Jadi penumpang bebas mau naik kereta yang mana saja," kata Direktur Institut Studi Transportasi (Intrans) Darmaningtyas, Kamis (30/6/2011).
Darmaningtyas mengusulkan, jumlah kereta juga harus ditambah sehingga penumpukan penumpang bisa diatasi. "Ini jumlah keretanya juga harus ditambah, jadi tidak terlalu padat keretanya" sambungnya.
Hingga kini masih ada dua jenis kereta yang melayani rute Jabodetabek. Kereta pertama tidak menggunakan AC (kereta ekonomi) dan kereta kedua menggunakan AC dengan nama kereta Commuter Line. Tarif kereta Commuter Line jauh lebih mahal dibandingkan kereta non-AC. Tarif KRL ekonomi adalah Rp 2.000. Sedangkan tarif KRL Commuter Line adalah sebagai berikut:
Jakarta β Bogor Rp 7.000
Jakarta β Depok Rp 6.000
Jakarta β Bekasi Rp 6.500
Jakarta β Tangerang Rp 5.500
Jakarta β Sudimara/Serpong Rp 6.000
Sebelumnya banyak pengguna KRL yang mengeluhkan beroperasinya kereta Commuter Line. Mereka menilai penerapan Commuter Line membuat kereta AC menjadi lebih padat dan waktu tempuhnya menjadi lebih lama.
(nal/vit)











































