Jubir Presiden: Tak Ada Nepotisme dalam Pemilihan KSAD

Jubir Presiden: Tak Ada Nepotisme dalam Pemilihan KSAD

- detikNews
Kamis, 30 Jun 2011 09:53 WIB
Jakarta - Letjen Pramono Edhi Wibowo dipilih Presiden SBY untuk menduduki kursi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Meski Pramono adalah adik ipar SBY, namun pihak Istana menampik ada nepotisme dalam pemilihan KSAD ini.

"Kalau dikaitkan dengan nepotisme karena hubungan keluarga dan sebagainya, saya kira tidak ada. Pemilihan telah dilakukan berdasarkan kelaziman yang ada," kata Jubir Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha saat dihubungi detikcom, Kamis (30/6/2011).

Dia menuturkan, sama sekali tidak ada campur tangan langsung pribadi SBY dalam promosi Pramono sebagai KSAD. Pemilihan ini, tegasnya, sudah berdasar prosedur yang lazim dalam promosi di TNI AD lantaran telah melalui rapat Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi dalam TNI AD.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penunjukkan KSAD diputuskan melalui itu, hasil rapat Wanjakti lalu ke Panglima TNI, dan diajukan namanya pada Presiden melalui prosedur yang lazim," terang Julian.

Lazimnya, sambung dia, KSAD berasal dari Pangkostrad. Bila ditilik, Pramono Edhi Wibowo juga berasal dari Pangkostrad, sehingga tidak ada alasan pemilihan ini dilakukan secara tidak prosedural dan tidak profesional.

"Coba lihat prestasi-prestasi beliau. Yang bersangkutan benar-benar pantas untuk diduduki," ucap Julian.

Apakah ini upaya untuk mempromosikan Pramono di 2014? " Pemilihan ini ada prosedurnya, kemudian diusulkan ke Presiden. Tapi bukan Presiden yang mengarahkan," kata Julian.

Sebelumnya, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar, melihat adanya nuansa nepotisme dalam pemilihan KSAD. Alasannya, Letjen Pramono Edhi bukan calon terbaik dari yang ada. Di mata Haris, Letjen Budiman dan Letjen Marciano lebih muda, selain itu Letjen Marciano lebih jelas dalam penyelesaian kasus kekerasan yang pernah ada di anak buahnya.

Perjalanan karir Letjen Pramono, menurut Haris, hanya moncer di Kopassus saja. Itu pun, sempat 'ternoda' dengan adanya serangan terhadap rumah Uskup Belo di Timor Timur. Penyerangan itu terjadi saat Letjen Pramono menjabat Komandan Golfur Kopassus pada 1999.

(vit/ndr)


Berita Terkait