"Untuk antisipasi mudik Lebaran kita akan mencoba memperbantukan kapal dari lintasan lain ke Merak. Selain itu, kita akan menambah 6 kapal bekas yang dananya diambil dari uang ASDP dan perbankan nasional," kata Direktur PT ASDP Danang Baskoro dalam jumpa pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2011).
Danang menjelaskan, kemacetan kendaraan di Pelabuhan Merak-Bakauheuni bukanlah murni kesalahan PT ASDP. Menurutnya PT ASDP hanya mengoperasikan 3 kapal dari 33 kapal yang beroperasi di Merak-Bakauheuni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Danang mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Jawa dan Sumatera juga menjadi salah satu faktor kemacetan di Merak. Tingginya pertumbuhan ekonomi menyebabkan truk yang hilir mudik dari Jawa-Sumatera menjadi semakin berat dan panjang.
"Ini membuat proses bongkar muat menjadi terhambat. Selain itu kemampuan kapal mengangkut truk juga jadi berkurang," terangnya.
Danang mengatakan, kapal-kapal yang ada di Merak-Bakauheuni beroperasi 24 jam sehari. Padahal, idealnya kapal-kapal ini seharusnya beroperasi tiga hari, kemudian menjalani perawatan dua hari.
"Jadi waktu untuk perawatan kurang karena kapal dipaksa untuk terus beroperasi," tuturnya.
Faktor cuaca juga mempengarui operasional kapal. Terutama cuaca di daerah Bakauheuni yang arusnya sangat deras saat dini hari. "Ini juga menghambat waktu sandar kapal," ucap Danang.
Solusi lain yang dikembangkan PT ASDP untuk mengatasi antrean truk adalah dengan
menambah area parkir di lingkungan pelabuhan Merak. Rencananya PT ASDP akan merelokasi stasiun kereta api, bengkel di pelabuhan dan bangunan liar di dalam pelabuhan.
(nal/vit)











































