Pemerintah Dinilai Lalai Tangani Kasus TKW Ernawati

Pemerintah Dinilai Lalai Tangani Kasus TKW Ernawati

- detikNews
Selasa, 28 Jun 2011 16:06 WIB
Pemerintah Dinilai Lalai Tangani Kasus TKW Ernawati
Jakarta - Keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Ernawati yang tewas Februari 2011 lalu menilai pemerintah lamban dalam menindaklanjuti laporan keluarga. Padahal, sebelum Ernawati tewas keluarga sempat mengadukan keluhan itu.

"Pemerintah kurang sigap. Pemerintah harus bertanggungjawab atas kematian adik saya. Padahal keluarga sudah buat laporan sebelum adik saya dinyatakan tewas," kata Yenni Larasati, dalam jumpa pers di Kantor Migrant Care, Jl Pulo Asem Utara 1, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (28/6).

Yenny menuturkan, terhitung tanggal 24, 25, 26 Januari 2011 Ernawati terus berhubungan via telepon dengan Yenni. Dalam pembicaraannya itu Ernawati sempat mengeluhkan sakit yang dideritanya sampai dengan muntah darah.

"Dia juga cerita kalau sering dianiaya pakai selang air," kata Yenni.

Komunikasi terakhir dilakukan Ernawati melalui pesan singkat yang dikirim kepada Yenni. Dia mengaku hendak diperkosa oleh anak majikannya. "Itu komunikasi terakhir SMS dengan Ernawati," ujar Yenni.

Sejak mendapat kabar terakhir, Yenni berupaya melaporkan keluhan yang diderita adiknya ke pihak Kementerian Luar Negeri. Namun tidak pernah ada tanggapan dari pihak kementerian.

"Sampai akhirnya tanggal 13 Februari saya dapat telepon dari teman adik saya, Misye, yang kerja satu rumah bilang adik saya sudah meninggal 3 hari lalu dan jenasahnya di rumah sakit," tuturnya.

Yenni terkejut bukan kepalang mendengar laporan tersebut. Dia langsung melaporkan hal itu ke Kementerian luar Negeri. Namun pihak kementerian saat itu meminta Yenni dan keluarga untuk tidak mempercayai kabar lisan itu.

"Baru keesokan harinya Kementerian Luar Negeri menyampaikan duka cita dan seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali," ujarnya.

Ernawati merantau ke Arab Saudi sejak tahun 2008 di Kota Hail yang terletak 700 kilometer dari Riyadh. Saat itu warga Dukuh Ngeseng, Desa Karang Rowo, Kecamatan Udaan, Kabupaten kudus itu baru lulus SMA dan berusia 15 tahun.

"Datanya dipalsukan dan dituakan tahun kelahirannya jadi tahun 1985," tuturnya.

Keluarga berharap pemerintah sigap dalam menindaklanjuti tewasnya kematian anak ke 9 dari 11 bersaudara dari pasangan buruh tani Sujono dan Sukaeri.

Ernawati pernah bercerita kepada Yenni bila dia menyebut majikannya bekerja sebagai PSK. "Majikannya itu janda, selama bekerja di sana laki-lakinya selalu gonta-ganti menginap di rumah

Keluarga berharap pemerintah segera memulangkan jasad Ernawati ke tanah air. "Selain itu, pertangungjawabkan laporan saya yang tidak ditindaklanjuti cepat. Keluarga meminta majikan adik saya dihukum yang setimpal, katanya kalu bunuh orang dipancung, ya hukumannya harus seperti itu," kata Yenni.

Di tempat sama, Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah menyatakan pemerintah untuk tidak lagi mentolerir kasus kematian TKI di Arab Saudi dan Malaysia.

"Banyak kasus tapi tidak ada follow up dari pemerintah. Kasus kematian TKI tidak hanya berhenti di pemulangan jenasah dan pembayaran administrasi, tapi proses hukum terhadap pelaku yang menyebabkan kematian para TKI," tegas Anis.


(ahy/ndr)


Berita Terkait