"Hasan (staf MK) datang sebagai tamu basa basi dan bukan langsung to the poin. Lalu letakkan laptop dia mulai bicara. Pak saya disuruh menjawab surat oleh Pak Zainal Arifin (Panitera MK) tentang pertanyaan KPU. Tentu saya bertanya-tanya dulu. Itukan bukan wewenangnya (Hasan)," kata Arsyad menceritakan kunjungan Hasan, staf MK, ke kediamannya.
Hal tersebut ia sampaikan saat dimintai keterangan oleh Panja Mafia Pemilu di Gedung DPR, Senayan, Selasa (28/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Arsyad mengakui bahwa saat Hasan bertandang ke rumahnya juga ada Dewi yang datang tidak bersamaan. Menurut Arsyad, Dewi tidak mengikuti perbincangannya dengan Hasan.
"Dewi Yasin tidak berbaur dengan saya dan Hasan," katanya.
Arsyad mengenal Dewi saat Dewi masih kecil di Makasar. Dewi adalah saudara Gubernur Sulsel, Sahrul Yasin Limpo yang merupakan teman Arsyad.
"Ia saudara Gubernur Sahrul Yasin Limpo, teman sepermainan saya. Teman main golf," katanya.
Surat palsu MK diduga dikonsep di kediaman Arsyad. Surat palsu berisi penjelasan yang pada intinya akan membuat caleg asal Hanura, Dewi Yasin Limpo memperoleh kursi di DPR. Karena tercium MK, kemenangan Dewi itu pun dibatalkan.
(adi/anw)











































