Bertarung di nomor Gaya Dada 50 Meter Divisi F6, Stephanie Handojo, pelajar SMIP Kasih Ananda Jakarta, menyabet medali emas dengan catatan waktu 01:02.73. Medali perak diraih atlet Prancis Sophie Gonard (01:05.49) dan perunggu jatuh ke tangan atlet Belgia Tinne van Beylen (01:05.98).
Sedangkan Fitriani, dari Panti Sosial Bina Grahita Nipotowe Palu, Sulawesi Tengah, menggapai emas di nomor Gaya Dada 50 Divisi F8 dengan catatan waktu 00:49.99. Medali perak disabet atlet Charmaine Mifsud dari Malta (00:50.57), dan perunggu diraih Rachel Abigail Veldkamp dari Suriname (00:51.94).
"Prestasi ini menunjukan bukti nyata bahwa atlet tunagrahita Indonesia tidak kalah dengan atlet dari 184 negara di dunia sesuai dengan kelasnya," ujar Menteri Sosial RI Dr. Salim Segaf Al Jufri seusai mendapat kehormatan mengalungkan medali kepada para juara diiringi kibaran merah putih dari supporter Indonesia.
Menurut keterangan Sekretaris I KBRI Athena Jani Sasanti kepada detikcom, menteri sudah berada di Athena sejak pembukaan Olimpiade Dunia Tunagrahita dan ikut memberi dukungan para atlet dalam berjuang menggapai emas.
Menteri mengharapkan doa dan dukungan dari seluruh bangsa Indonesia agar para atlet tunagrahita Indonesia yang bertarung di 6 cabang lainnya seperti bulutangkis, tenismeja, bolabasket, sepakbola, atletik dan booce, juga dapat meraih medali emas seperti Stephanie dan Fitriani.
Saat berita ini disusun, para atlet tungrahita Indonesia lainnya tengah mengikuti pertandingan di cabang olahraga lainnya dalam babak penyisihan.
Sementara itu Dubes RI Ahmad Rusdi menyambut gembira dan sangat terharu atas capaian emas oleh Stepahnie dan Fitriani, yang membawa nama harum bangsa dan negara Indonesia di kancah internasional.
"Bagaimanapun persaingan yang sangat berat bagi atlet tunagrahita dalam olimpiade ini menjadi catatan sejarah bagi dunia olahraga Indonesia," cetus Dubes, yang selalu mendampingi para atlet tunagrahita Indonesia sejak tiba di Athena.
Dubes juga menilai bahwa kehadiran Menteri Sosial RI menunjukkan perhatian pemerintah dalam mendukung dan memberikan semangat kepada para atlet tunagrahita Indonesia dalam olimpiade ini.
Festival
Olimpiade DUnia Tunagrahita 2001 di Athena juga menggelar side event (kegiatan sampingan, red) berupa Special Olympic Festival di Athens Olympic Sport Complex (OAKA), 26/6 - 3/7/2011.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan kebudayaan untuk memperkenalkan seni dari negara peserta kepada para pengunjung.
KBRI Athena memanfaatkan kesempatan ini untuk menampilkan berbagai kerajinan dan kebudayaan Indonesia seperti angklung, gamelan, wayang golek, topeng Bali dan Jawa, serta warisan budaya tradisional lainnya.
Para pengunjung terutama anak-anak terlihat senang dan betah di anjungan Indonesia, karena mereka dapat mencoba memainkan gamelan dan angklung yang dipamerkan.
KBRI Athena juga akan menampilkan tarian tradisional Indonesia yaitu Indang dan Yapong, yang akan dibawakan oleh delapan penari asuhan KBRI Athena (30/6/2011).
Legenda
Olimpiade Dunia Tunagrahita 2011 di Athena dibuka oleh Presiden Yunani di stadion bersejarah Kalimarmaro Athena (25/6/2011), dihadiri oleh 7500 atlit dari 184 negara merupakan.
Acara pembukaan dihadiri dan dimeriahkan oleh para diva dunia, yang peduli pada tunagrahita antara lain Celine Dion dan Stevie Wonder, juga para legenda olahraga seperti Johan Cruijff dari Negeri Belanda.
Cruijff diangkat oleh pendiri Olimpiade Dunia Tunagrahita Eunice Shriver-Kennedy sebagai Dubes pertama cabang sepakbola untuk organisasi ini.
"Kalau saya lihat betapa dalam tempo 30 tahun olimpiade tunagrahita ini telah berkembang menjadi organisasi yang mengesankan, maka itu menunjukkan kesadaran para olahragawan top mengenai tanggung jawab mereka terhadap masyarakat lainnya," demikian Cruijff.
(es/es)











































